2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 21.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 8 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Leave a comment »

PROGRAM KERJA POKJA PMKP RS TAHUN 2014 – 2015

Originally posted on Aisyatul Mukminah's Weblog:

PROGRAM KERJA POKJA PMKP 2014-2015
STANDAR PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN
(QUALITY IMPROVEMENT DAN PATIENT SAFETY STANDAR )

1. PMKP 1. LEADER SHIP AND QUALITY PATIENT SAFETY PLAN
2. PMKP 2. CLINICAL GUIDLINE, CLINICAL PATHWAY
3. PMKP 3. PENETAPAN DAN PENGUMPULAN DATA INDIKATOR
4. PMKP 4. ANALISA DATA INDIKATOR
5. PMKP 5. VALIDASI DATA INDIKATOR
6. PMKP 6. SENTINEL EVENT
7. PMKP 7. VARIASI / TREND DATA TIDAK DIHARAPKAN
8. PMKP 8. NEAR MISS
9. PMKP 9. IMPROVEMENT AND SUSTAINIBILITY
10. PMKP 10. IMPROVEMENT IN PRIORITY AREA AND TEST CHANGE
11. PMKP 11. RISK MANAGEMENT—FMEA

URAIAN

1 PMKP1
LEADER SHIP AND QUALITY PATIENT SAFETY PLAN

Pembentukan komite PMKP
Terdiri dari 2 panitia 1. panitia mutu ( peningkatan mutu dan manajemen resiko) 2. panitia keselamatan pasien – Menyusun program kerja komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien dan manajemen resiko

– Program kerja PMKP 1 tahun (Tahun 2015)
– Ditetapkan direktur RSUIT

View original 376 more words

Leave a comment »

PROGRAM KERJA POKJA PMKP RS TAHUN 2014 – 2015

PROGRAM KERJA POKJA PMKP 2014-2015
STANDAR PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN
(QUALITY IMPROVEMENT DAN PATIENT SAFETY STANDAR )

1. PMKP 1. LEADER SHIP AND QUALITY PATIENT SAFETY PLAN
2. PMKP 2. CLINICAL GUIDLINE, CLINICAL PATHWAY
3. PMKP 3. PENETAPAN DAN PENGUMPULAN DATA INDIKATOR
4. PMKP 4. ANALISA DATA INDIKATOR
5. PMKP 5. VALIDASI DATA INDIKATOR
6. PMKP 6. SENTINEL EVENT
7. PMKP 7. VARIASI / TREND DATA TIDAK DIHARAPKAN
8. PMKP 8. NEAR MISS
9. PMKP 9. IMPROVEMENT AND SUSTAINIBILITY
10. PMKP 10. IMPROVEMENT IN PRIORITY AREA AND TEST CHANGE
11. PMKP 11. RISK MANAGEMENT—FMEA

URAIAN

1 PMKP1
LEADER SHIP AND QUALITY PATIENT SAFETY PLAN

Pembentukan komite PMKP
Terdiri dari 2 panitia 1. panitia mutu ( peningkatan mutu dan manajemen resiko) 2. panitia keselamatan pasien – Menyusun program kerja komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien dan manajemen resiko

– Program kerja PMKP 1 tahun (Tahun 2015)
– Ditetapkan direktur RSUIT
– Persetujuan pengesahan oleh yayasan RSUIT

-Perubahan dalam Hospital By Law :
bahwa komite PMKP dan kegiatannya harus tercantum dalam HBL dan tanggung jawabnya, program kerjanya, pengesahannya samap ke dewan pengawas yayasan RSUIT

—>Ketua PMKP , KTU

2 PMKP2
CLINICAL GUIDELINE, CLINICAL PATHWAY

Membuat clinical guideline, clinical pathway
– Menyusun PPK (Panduan Praktek Klinis)

– 5 clinical pathway dipilih berdasarkan : high risk? Problem prone? high volume?

– Kesepakatan bersama membuat 5 clinical pathway (format ttt)

– Audit : Kepatuhan menjalankan sesuai clinical pathway
Berkumpul dalam acara komite medic
Berdasarkan data Rekam Medik
Mengambil beberapa sampel
Hasil nya ? : kepatuhan kurang atau sesuai CP
Rekomendasi : diperbaiki

—>KOMITE MEDIS

3
PMKP3
PENETAPAN DAN PENGUMPULAN DATA INDIKATOR
Indikator di rumah sakit dibuat 26 indikator, yaitu
3.1. indikator area klinis (IAK)

3.2. indikator area managemen
3.3. indikator sasaran keselamatan pasien

Tambahan indikator dari JCI

Menentukan indicator

1.Indikator mutu (area klinis) / IAK
-10 area klinis + 1 riset klinis

2. Indicator area manajemen
– 9 indikator

3. Indicator sasaran keselamatan pasien
– 6 indikator

Ada 6 indikator
Menentukan Kamus Indikator

Mengumpulkan data indicator
—>Panitia Mutu , panitia keselamatan pasien

4 PMKP4
ANALISA DATA INDIKATOR

Analisa data

Grafik data

Analisa grafik

Menganalisa data indicator

Membuat grafik data indicator

Menganalisa grafik
-Story board (data unit)
-Dash board ( data direktur)

—->Panitia mutu

5 PMKP5
VALIDASI DATA INDIKATOR

Validasi data indikator

Menyusun personalia validator

Melatih validator

Melakukan validasi

Mencapai dan mempertahankan Peningkatan mutu dan Keselamatan

—>Panitia mutu dan Panitia keselamatan pasien

7 PMKP 6
Sentinel event

Data IKP—–> Panitia keselamatan pasien

8 PMKP 7
Variasi / Trend data tidak diharapkan

Analisa IKP—> Panitia mutu dan keselamatan pasien

9
PMKP 8
Near miss
Data IKP —>Panitia keselamatan pasien
10 PMKP 9
Improvement & Sustainibility

Komite PMKP

11 PMKP 11
Risk Management —FMEA
Membuat FMEA

Program yang belum terjadi atau melihat kendala yang akan terjadi—memenej segala risiko terjadi

Panitia mutu—manajemen resiko
12

Evaluasi kinerja dokter

Evaluasi kinerja dokter dalam 1 tahun

– Membuat format/ cek list kinerja dokter :
– Yang ditulis oleh dokter sendiri, semua kegiatan harian (semacam borang dokter)/ selama 1 tahun

Komite Medik
(sub komite mutu)

13 Program POKJA terkait POKJA SKP

Yang melaksanakan indicator keselamatan pasien pokja SKP
Yang mengevaluasi indicator keselamatan pasien pokja PMKP

Semoga Bermanfaat

Comments (1) »

EVALUASI KINERJA DOKTER

EVALUASI KINERJA DOKTER

Salah satu program peningkatan mutu, komite PMKP (peningkatan mutu dan keselamatan pasien/ panitia mutu dan komite medis / sub komite peningkatan mutu dokter, dievaluasi tiap tahun )

Tabel  PENILAIAN KINERJA DOKTER INTERNSHIP
Nama peserta :
Nama pendamping :
Periode penilaian :
                                                                                                                                                                                                                   MACAM PENILAIAN  :  Medik, Bedah, Kegawat daruratan, Etik, Disiplin, Medikolegal Kinerja
  

PERILAKU  , nilai  A B C D

- DISIPLIN (KEHADIRAN TEPAT WAKTU)

- PARTISIPASI (IKUT SERTA MEMBERI MASUKAN)

- ARGUMENTASI (RASIONALISASI )

 – TANGGUNG JAWAB (MENGISI REKAM MEDIS/ LAPORAN JAGA)

 – KERJASAMA (TOLONG MENOLONG, TANGGAP,TENGGANG RASA)

    KLINIS ( bisa menilai dalam wawancara atau presentasi kasus ) nilai A,B,C dan D
  – ILMU PENGETAHUAN (mempunyai ilmu yang memadai dan mampu menerapkannya dinilai melalui presentasi kasus dan atau porto folio)

   – KEMAMPUAN MEDIS KLINIS (ketrampilan medis yang memadai melalui pemeriksaan dll dalam audit medis)

  –  KEMAMPUAN MEMBUAT KEPUTUSAN KLINIS (clinical reasoning melalui presentasi kasus)

  – KEMAMPUAN MENGATASI KEGAWATAN MEDIS (kemampuan bertindak cepat dan tepat mengatasi kedaruratan sekaligus menyadari keterlambatannya)

-   KETRAMPILAN PROSEDURAL (kemampuan menyelesaikan tindak medis secara lege artis sesuai SOP dinilai melalui laporan periodic)

    KOMUNIKASI nilai A,B, C atau D
   – KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI SECARA EFEKTIF (dengan sejawat, apsien, keluarga, staf klinik)

   – KEMAMPUAN BEKERJA DALAM TIM (bekerjasama dengan semua unsure didalam maupun diluar rs)

   – KEPRIBADIAN DAN PROFESIONALISME
   – TANGGUNG JAWAB PROFESIONAL (kejujuran , keandalan)

   –  MENYADARI KETERBATASAN (merujuk, konsultasi pada saat yang tepat)

Tulungagung , —————

Mengetahui Pendamping :

(——————————-)
 
Keterangan :
1. Evaluasi kinerja diatas diisi dengan data-data pekerjaan  mingguan yang sudah dikerjakan
2. Penilaian kinerja huruf A, B, C,  D
A. Melebihi standar, mampu bekerja mandiri, dan bersikap kreatif
B. Sesuai dengan standar, mampu bekerja mandiri dengan pengarahan lebih lanjut
C. Perlu perbaikan , masih perlu arahan di sejumlah kegiatan
D. Perlu perbaikan, masih perlu mendapat arahan menyeluruh
E. Belum nampak adanya perubahan menuju yang lebih baik

Leave a comment »

INDIKATOR MUTU

Pelayanan bermutu / Quality of care adalah pelayanan kesehatan untuk pasien dan masyarakat meningkat sesuai out come yg diharapkan dan konsisten dengan pengetahuan profesional terkini.

Indikator mutu adalah ukuran mutu dan keselamatan rumah sakit yang digambatkan dari data yang dikumpulkan.

———————————————————————————————————————————————————–

Metode yang digunakan dari cara menentukan indikator antara lain metode FOCUS PDCA (plan do study act)

FOCUS

F —-find on opportunity for improvement

O —organize a team that knows the process

C —-clarify the current knowledge of the process

U —-understand the causes of process variation

S —-select the desired improvement

————> Plan Do Study Act  (PDCA)

———————————————————————————————————————————————————

TIPE PENGUKURAN INDIKATOR

1. STRUKTUR—–menilai kualitas layanan kesehatan yg berkaitan dg kemampuan rs untuk memenuhi kebutuhan pasien / masyarakat ( mis rasio perawat : jumlah TT)—– sarana, pra sarana, fasilitas, SDM

2. PROSES—— menilai apa yg dikerjakan provider dan bagaimana pelaksanaan pekerjaannya —–kegiatannya

3. OUTCOME—menilai pengaruh proses layanan yg diberikan thd kesehatan pasien, mis mortalitas, morbiditas—-hasil, dampak , pelayanan kes

PEMILIHAN INDIKATOR MUTU BERDASARKAN HIGH RISK, HIGH VOLUME, PROBLEM PRONE

——–HIGH RISK——–

merujuk pada area yg rawan atau tdk stabil

pertimbangkan resiko dalam perawatan populasi ttt, potensialdampak kegagalan pemberian tindakan/pengobatan yg salah

kategori ini termasuk px eksperimental, atau intervensi khusus yg beresiko

——HIGH VOLUME—–

pelayanan yg frekuensinya besar

demografis pasien berperan dalam hal ini

pasien apa yang paling sering dilayani di RS?

apakah anda memberi target kelompok usia ttt? spesialisasi dalam jenis perawatan ttt (anak, badah dll?)

misal : 10 penyakit terbanyak

——–PROBLEM PRONE——-

prosedur atau proses yg dapat menghasilkan outcome yg tdk diharapkan mis px jatuh 2x di unit saraf

berikan perhatian khusus pada area dimana proses tdk berjalan baik atau outcome tdk konsisten.

Misal : time out di ruang OK

—————————————————————————————————————————————————–

AKEDITASI PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN /PMKP

—————-QPS 3.3.1. CLINICAL AREA MEASURES—————–

1. ASESMEN PASIEN

assesment dr dan atau perawat 24 jam

kelengkapan assesment pre anastesi

2. PELAYANAN LAB

TAT : urgen urine samples (1/2)

QC : % quality control cholesterol

3. PELAYANAN RADIOLOGI DAN DIAGNOSTIC IMAGING

turnaround time hasil X ray

4. PROSEDUR BEDAH

kembali masuk OK dalam 24 jam tanpa rencana

kepatuhan prosedur time out

5. PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA DAN MEDIKASI LAIN

lap adverse drug reaction, lap medical error

6. MEDICATION ERRORS AND NEAR MISSES

7. PENGGUNAAN ANASTESI DAN SEDASI

assesmen pre sedasi

waktu tiba dan keluar untuk post anestesi care

8. PENGGUNAAN DARAH DAN PRODUK DARAH

jumlah unit darah yg disepakati unit

9. KETERSEDIAAN , KONTEN, DAN PENGGUNAAN REKAM MEDIS

analisis audit rekam medis

10. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI, SURVEILANS DAN PELAPORAN

kepatuhan hand hygiene

hospital acquired infection

11. PENELITIAN KLINIS

jumlah penelitian yg telah selesai

———————————————————————————————————————————————————-

—————————–QPS 3.3.2. MANAGERIAL AREA MEASURES—————————

1. PENGADAAN ALAT DAN MEDIKASI YG RUTIN DIPERLUKAN PASIEN

jumlah medikasi yg out of stock

% zero stock vs 100% dalam 3 bulan

2. LAPORAN  AKTIFITAS SESUAI REGULASI DAN HUKUM

syarat regulasi—KARS

                           pelaporan penyakit infeksi ke pemerintah

3. MANAJEMEN RESIKO__________-MIS TERTUSUK JARUM DLL

analisa laporan  insiden dan near miss

4. MANAJEMEN UTILISASI

rata2 sensus harian pasien rawat inap

rata2 length of stay

jumlah uji lab

5. KEPUASAN DAN HARAPAN PASIEN DAN KELUARGA—————–HUMAS

survei kepuasan pasien rawat inap

komplain pasien

6. KEPUASAN DAN HARAPAN STAF——-PERIODE 1 TH ATAU 1 BL

survei kepuasan staf

7. DEMOGRAFIK PASIEN DAN DIAGNOSA KLINIS————REKAM MEDIS

Top 5 diagnosa klinis

rasio pria:wanita

8. MANAJEMEN KEUANGAN

% pembayaran tepat waktu sesuai kontrak

pengumpulan piutang

9. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KEJADIAN YG MENGGANGGU KESELAMATAN PASIEN, KELUARGA, DAN STAF

laporan insiden/ entinel events.

———————————————————————————————————————————————————-

———————–QPS 3.3.3 IPSG MEASURES———————————

1. IDENTIFIKASI PASIEN SECARA BENAR

jumlah pasien tanpa gelang identitas

spesimen tdk diberi label dg dua tanda pengenal

2. KOMUNIKASI EFEKTIF

verbal order ditandatangani dokter dalam 24 jam

hasil lab pertilpun dibread back

3. KEAMANAN OBAT2 HIGH ALLERT

% high allert medication yg ditemukan tanpa label high allert

4. TEPAT SISI TEPAT PASIEN, TEPAT PROSEDUR

time out dilaksanakan dengan lengkap sebelum operasi

5. MENGURANGI RESIKO INFEKSI

angka kepatuhan hand hygiene

6. MENGURANGI RESIKO JATUH

jumlah pasien jatuh

pasien berisiko jatuh memiliki catatan intervensi resiko jatuh

—————————————————————————————————————————————————–

SEMOGA BERMANFAAT.

Leave a comment »

PERSIAPAN AKREDITASI RUMAH SAKIT VERSI 2014 , STANDAR PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

QUALITY IMPROVEMENT DAN PATIENT SAFETY STANDARD (QPS)

ATAU STANDAR PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT (PMKP)

ADA 11 STANDAR

1. PMKP1     LEADER SHIP AND QUALITY PATIENT SAFETY PLAN

2. PMKP2     CLINICAL GUIDELINE, CLINICAL PATHWAY

3. PMKP3     PENETAPAN DAN PENGUMPULAN DATA INDIKATOR

4. PMKP4     ANALISA DATA INDIKATOR

5. PMKP5     VALIDASI DATA INDIKATOR

6. PMKP6     SENTINEL EVENT

7. PMKP7     VARIASI / TREND DATA TIDAK DIHARAPKAN

8. PMKP8      NEAR MISS

9. PMKP9       IMPROVEMENT AND SUSTAINIBILITY

10. PMKP10   IMPROVEMENT IN PRIORITY AREA AND TEST CHANGE

11. PMKP11    RISK MANAGEMENT–FMEA

—————————————————————————————————————

1. PMKP1     LEADER SHIP AND QUALITY PATIENT SAFETY PLAN

Bentuk komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien , dimana komite ini terdiri dari 3 sub komite yaitu sub komite peningkatan mutu, sub komite keselamatan pasien dan sub komite manajemen resiko.

Komite ini menyusun program kerja komite peningkatan mutu dan keselamatan pasien rumah sakit selama 1 tahun yang ditetapkan oleh direktur dan yayasan rumah sakit.

Komite dan kegiatannya harus tercantum dalam HBL (Hospital By Law) dan tanggung jawab nya, program kerja PMKP pengesahannya  sampai ke dewan pengawasan rumah sakit.

————————————————————————————————————————————————–

2. PMKP2     CLINICAL GUIDELINE, CLINICAL PATHWAY

Dalam 1 tahun minimal pilih 5 untuk dievaluasi, ditindak lanjuti –pilih yang high risk? high prone? high volume?

—————————————————————————————————————————————————

3. PMKP3     PENETAPAN DAN PENGUMPULAN DATA INDIKATOR

Indikator di rumah sakit harus dibuat 26 indikator, yaitu

3.1. indikator area klinis (IAK) ————————ada 11 indikator

3.2. indikator area management———————-ada   9 indikator

3.3. indikator sasaran keselamatan pasien———ada   6 indikator

Tambahan  indikator dari JCI  ada 6 indikator———————————-32 indikator

—————————————————————————————————————————————————–

4. PMKP4     ANALISA DATA INDIKATOR

setelah dibuat indikator—-kemudian di analisa—-buat Grafiknya—dan analisa grafiknya

—————————————————————————————————————————————————-

5. PMKP5     VALIDASI DATA INDIKATOR

ada cara dan sarat ttt menjadi validator antara lain validator harus orang berbeda,

—————————————————————————————————————————————————-

Leave a comment »

WALIMATUL HAML

 
 
 
PENGARUH AGAMA ISLAM TERHADAP TRADISI  UPACARA  TINGKEBAN
(WALIMATUL HAML)
 

   
 
Tulungagung merupakan kota indah berbatasan dengan Kediri, Blitar dan Trenggalek, dimana sebagian besar penduduknya beragama Islam ,  dan perkembangan agama dan budaya didaerah ini  telah berkembang pesat, banyaknya pendatang dari suku Madura, Bawean , juga keturunan Arab dan Cina, terutama di kota  atau kecamatan kota. Disamping  itu di daerah kota, sebagian besar suku jawa, masih mengadakan acara atau upacara adat jawa, tetapi adat  asli jawa kuna  tersebut telah banyak berubah,   dan hampir semuanya pengaruh agama Islam, pengaruh agama islam yang sangat pesat itu banyak dipengaruhi  adanya pondok-pondok pesantren di daerah perkotaan, antara lain Pondok Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) di desa Kauman, Pondok Panggung di desa Karangwaru, Pondok Menoro di desa Mangunsari  Tulungagung., yang mana pondok tersebut telah ada sejak abad 18.
Budaya asli jawa telah banyak ditinggalkan, karena menganggap banyak sekali acara adat jawa asli/ kuna yang dianggap terlalu ribet dan ritualnya banyak bertentangan dengan islam. Sehingga sampai saat ini acara atau upacara selamatanpun telah berubah dari tradisi aslinya , karena disesuaikan dengan syariat Islam. Meski sebagian dari masyarakat ada yang menentang atau meninggalkan tradisi jawa asli tersebut karena acara itu dianggap bid’ah atau sesat, tetapi sebagian besar masyarakat di kota Tulungagung dari suku jawa, masih mengadakannya. Upacara adat di keluarga yang  masih diadakan yaitu antara lain upacara adat pengantin  yaitu siraman, malam midodareni, akad nikah/ ijab Kabul, panggih / temu dan resepsi dan upacara sesudah resepsi. Dan upacara seputar kehamilan juga masih banyak yang mengadakannya.
Pada saat persiapan pra kehamilan , kehamilan, persalinan dan nifas pun ada beberapa tradisi jawa atau mitos  yang masih dipercaya sebagian masyarakat kota Tulungagung , dan hal ini ada yang mempunyai pengaruh positif atau negative terhadap kondisi kesehatan seorang ibu, yaitu  antara lain :
-          Minta bedak talk sisa pakai yang dioleskan dari bayi, dioleskan di perut ibu yang menginginkan anak, biar bisa cepat hamil, hal ini sebenarnya hanya sugesti untuk ibu yang melakukannya agar tenang mengharapkan hamil.
-          Pancingan yaitu mengambil atau mengadopsi anak seolah-olah  anak sendiri,  biar cepat punya anak, ini justru bisa menghambat keharmonisan tangga, dan menurut medis hamil hanya bisa terjadi bila ada pembuahan antara sperma dan sel telur
-          Dilarang membunuh binatang pada saat hamil , bisa menimbulkan cacat janin. Kepercayaan ini secara akal tidak mendasar karena cacat  disebabkan karena berbagai macam penyebab antara lain obat-obatan, infeksi, radiasi atau kel genetik dll
-          Saat hamil memakai kendit yaitu perut ibu diikat dengan benang,  dan ada kain yang diikatkan di tali yang berisi gunting kecil, jarum, dan diberi kain diikat di talinya, tujuannya agar bayi terhindar dari gangguan roh jahat , tetapi hal ini disamping juga sangat tidak rasional juga kurang leluasa gerak tubuh ibu dengan tali itu juga bisa mengakibatkan cedera ibu karena ada benda tajamnya.
Pantangan- pantangan lain yang berupa larangan perbuatan pada umumnya juga ada yang masih percaya yaitu seperti :
-          Dilarang makan di tempat tidur, karena bila akan me­lahirkan sukar dan nanti anaknya bisulen.
-          Dilarang  duduk di atas alu (antan), sebab kalau melahirkan membuang air besar.
-          Dilarang  duduk di atas lumpang akan menghambat kelahiran.
-          Dilarang  mengambil barang dengan jinjit (berdiri pada ujung kaki) akan mengakibatkan keguguran
-          Dilarang duduk/makan di muka pintu karena nanti anaknya mulutnya besar.
-          Dilarang duduk/makan di muka tungku karena anaknya nanti mulutnya lebar.
-          Dilarang mandi terlalu malam, akan memperpanjang saat kelahiran.
-          Dilarang makan dalam takir karena akan menutup ja­lannya bayi.
-          Dilarang berkalung handuk karena anaknya nanti akan kalungan usus.
-          Dilarang berselimut sarung karena nanti akan lahir bungkus.
-          Dilarang menyumbat lubang karena akan menghambat kelahiran.
-          Dilarang melepas rambut pada waktu malam, karena mempersulit pada waktu melahirkan.
-          Tidak boleh membuang air panas, supaya bayinya ti­dak mudah kena penyakit sulet.
-          Pada waktu matahari terbenam tidak boleh keluar ru­mah supaya terhindar dari roh-roh jahat.
-          Tidak boleh membakar tempurung/ranting bambu su­paya anaknya kelak tidak nakal.
-          Tidak boleh berziarah ke kubur dan makan selamatan orang meninggal supaya tidak terkena sawan mayit.
-          Tidak boleh makan dengan pinggan cekung karena bila dilanggar akan melahirkan sukar/sulit.
-          Tidak boleh memakai subang/cincin karena dapat menghambat kelahiran.
-          Memaki-maki atau membenci orang karena anaknya nanti akan seperti orang yang dibenci itu.
-          Dilarang menjahit dengan tangan, supaya  tidak meng­hambat kelahiran.
-          Dilarang melihat sesuatu yang menakutkan atau me­ngerikan karena akan berakibat buruk terhadap bayi­nya
Kecuali beberapa pantangan tersebut di atas, ada beberapa anjuran yang masih dipercaya  oleh seorang wanita hamil dan suaminya. Karena menurut kepercayaan apabila anjuran- anjuran itu ditaati akan membantu lancarnya kelahiran atau berakibat baik terhadap kelahiran. Anjuran-anjuran yang di­maksud adalah sebagai berikut:
-          Selama isterinya hamil sebaiknya  suami ber­puasa Senin – Kamis. Di samping itu harus banyak ber­amal.
-          Selama isterinya hamil sebaiknya si suami kalau tidur malam sesudah jam 12.00 malam.
-          Orang hamil  bila menyapu sampahnya ha­rus lekas dibuang, supaya kalau melahirkan mudah.
-          Wanita yang sedang hamil  dianjurkan makan daging burung kepodang (burung yang elok parasnya), supaya paras anaknya nanti elok.
-          Wanita hamil  dianjurkan untuk mi­num air kelapa muda (Jawa : banyu degan), agar pada waktu anaknya lahir kulitnya bersih dan halus.
-          Kalau mencuci pakaian air cucian harus lekas dibuang, supaya kelahiran berjalan lancar.
-          Apabila kandungan sudah mencapai umur 6 bulan, ibu yang mengandung dianjurkan minum minyak kelapa murni 1 sendok setiap hari supaya kelahiran berjalan lancar.
-          Ibu hamil  dianjurkan untuk minum jamu tradisional.
-          Orang hamil dianjurkan makan buah-buah­an sisa burung atau kelelawar, agar nanti anaknya pan­dai makan sendiri, atau kalau sudah besar pandai men­cari nafkah sendiri.
-          Orang hamil dianjurkan untuk se­lalu menjaga kebersihan, misalnya bila akan menger­jakan sesuatu harus membersihkan kaki, tangan dan mukanya. Bahkan bilamana akan tidur meskipun hanya merupakan syarat kuku kaki maupun tangan supaya dikerik dengan pisau atau silet. Hal ini menurut kepercayaan menyebabkan bayi yang akan dilahirkan nanti berparas cantik.
-          Orang hamil bila akan tidur dian­jurkan mencuci kakinya dengan air yang diberi garam, maksudnya supaya tidak didekati binatang berbisa misalnya : ular.
Pantangan dan anjuran diatas masih dipakai pada sebagian masyarakat di Tulungagung. Meski mereka mengetahui bahwa hal diatas banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mereka anut. Sedangkan selamatan atau tradisi upacara saat hamil juga masih banyak yang menjalankan meski  banyak tradisi yang bertentangan dengan agama.
Saat kehamilan dilakukan berbagai tradisi atau upacara selamatan. Karena mayoritas lingkungan keluarga di Tulungagung kota mempunyai keyakinan/ agama yaitu islam yang taat, maka tradisi yang dilaksanakan tidak murni seperti tradisi masyarakat jawa kuna, tetapi tradisi yang  disesuaikan dengan ajaran agama islam, yang disebut walimatul haml.
Walimatul haml artinya selamatan untuk wanita hamil. Dalam masyarakat Jawa disebut Tingkeban. Tingkeban  menurut bahasa berarti upacara selamatan tujuh bulan untuk wanita yang sedang hamil .Di daerah Tulungagung  seperti daerah Jawa Timur lainnya (bagian pantura), ada yang menyebut acara  walimatul  haml ini dengan ” Mrocoti “. suatu bentuk tafa-ul, dimana calon yang masih dalam kandungan lahir dengan selamat, lancar dan tiada halangan apa-apa. ‘ Langsung procot,  langsung lahir. Procot itu sendiri artinya sudah lahir.
Kehamilan merupakan anugerah Allah swt terbesar bagi pasangan baru  suami istri  dalam perjalanan rumah tangga. Kehamilan seorang istri merupakan pertanda akan lahirnya anak keturunan yang menjadi buah kasih sayang, belahan jantung, penentram jiwa dan pelanjut sejarah. Kehadiran anak membangkitkan semangat orang tua untuk membangun rumah tangga bahagia,penuh cinta kasih dan sayang, mejadi tumpuhan  harapan hidup di masa depan, dan kepadanya segala cita –cita digantungkan.
Seperti pada umumnya, setiap pasangan ingin mengungkapkan rasa syukur sebagai orang tua yang dikarunia anak keturunan, sejak janin masih berada dalam kandungan sudah mempersiapkan segala sesuatu demi untuk menyongsong kelahiran anaknya. Segala perangkat dan perlengkapan disiapkan, setiap waktu do’a dipanjatkan, ungkapan syukur tiada henti meluncur dari hati sanubari setiap insan. Karena itu, berita kehamilan dari pasangan suami istri menempati tempat istimewa ditengah –tengah keluarga dan masyarakat
Sebagai ungkapan rasa syukur dalam menyambut berita gembira kehamilan termasuk daerah Tulungagung yang mayoritasnya merupakan  masyarakat Jawa terdapat suatu tradisi  berupa ritual yang khusus diperuntukkan bagi seorang wanita yang sedang mengandung, yaitu selamatan ngapati ( saat kandungan berusia empat bulan ),dan mitoni (pada saat usia kandungan genap enam atau  tujuh bulan). Selamatan ini disebut dengan Tingkeban. Ada juga yang menyebut dengan ‘ Mrocoti ‘, yang  merupakan bentuk tafaul, seraya  mengharapkan agar janin dalam kandungan dan ibunya sehat, pada saat kelahiranya lancar, langsung keluar ( procot, Jawa ) tanpa ada kesulitan dan halangan apapun.
Tradisi Tingkepan ini ada di Indonesia, khususnya di Jawa.  Tradisinya yang beragam, mulai dari yang bersifat ritual yang berbau mistis sampai yang bersifat seremonial.  Kalau kita cermati, tradisi yang ada sekarang itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Tradisi disamping  dipengaruhi oleh pola pikir sekarang, sedikit banyak juga dipengaruhi oleh generasi pendahulu. Dengan demikian ia selalu menghubungkan pada generasi pendahulu yang pada saat itu memiliki faham dan agama atau kepercayaan yang berbeda –beda sehingga tidak semua tradisi sesuai dengan syari’at. Oleh karena itu sebagai pewaris tradisi, saat itu dalam melaksanakan selamatan tidak mengadopsinya secara sporadis, tetapi selalu menimbang atau mengukur terlebih dahulu dengan ukuran syariat. Termasuk juga dengan tradisi Tingkeban ini, baik dalam acara ritual ngapati  atau mitoni ini.
Mengenai asal mula terjadinya ritual ngapati  atau mitoni ini tidak diketahui secara pasti. Namun, pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa kandungan yang sudah berusia tujuh bulan dianggap sudah sempurna. Janin yang sudah memasuki usia tujuh bulan ini kemungkinan kecil bisa keguguran. Karena sudah diyakini sempurna berwujud  manusia, tinggal menunggu tiupan ruh dan masa –masa kelahiranya saja, maka pihak keluarga mengadakan selamatan untuk menandai rasa syukurnya kepada Allah swt atas anugerah besar ini.
Pelaksanaan ritual tujuh bulanan ini dihubungkan dengan proses perkembangan janin yang ada dalam kandungan, dimana manusia diciptakan oleh Allah swt dari saripati tanah, kemudian tanah tersebut dijadikan air mani (sperma) yang ada pada seorang laki – laki , setelah terjadi persemaian antara sperma  (dari seorang laki – laki) dengan indung telur (dari seorang perempuan), maka selanjutnya terjadi pembuahan di dalam rahim seorang perempuan, kemudian menjadi janin yang tumbuh berkembang di dalamnya hingga akhirnya menjadi manusia sempurna.
Sehubungan dengan ritual tujuh bulanan ini,  penjelasannya demikian. Usia minimal kehamilan, itu enam bulan. Artinya, ketika janin sudah berusia enam bulan, maka ia telah sempurna. Sehingga bila lahir, insya Allah, ia bisa bertahan hidup. Sedangkan bila janin lahir sebelum berusia enam bulan, maka biasanya sulit bertahan hidup. Makanya, do’a untuk janin yang akan  lahir dilakukan pada bulan ketujuh.
Pelaksanaan ritual tujuh bulanan ini juga  dihubungkan dengan proses perkembangan janin yang ada dalam kandungan, dimana manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, kemudian tanah tersebut dijadikan air manis (sperma) yang ada pada seorang laki – laki , setelah terjadi persemaian antara sperma  (dari seorang laki – laki) dengan indung telur (dari seorang perempuan), maka selanjutnya terjadi pembuahan di dalam rahim seorang perempuan, kemudian menjadi janin yang tumbuh berkembang di dalamnya hingga akhirnya menjadi manusia sempurna
Proses terjadinya manusia merupakan peristiwa yang sangat menakjubkan, sebagai tanda keagungan Sang Pencipta. Bermula dari ujud (benda) yang tak bernilai (sperma) lalu secara bertahap berubah menjadi  janin (embrio) , kemudian tumbuh menjadi segumpal darah hingga menjadi segenggam daging, selanjutnya tumbuh menjadi tulang belulang yang terbungkus oleh daging, hingga akhirnya sempurna dan lengkap dengan angota badan yang tersusun rapi dan rumit, bahkan dilengkapi dengan akal pikiran, akal budi dan perasaan.
Semua proses tersebut terjadi dengan kuasa Allah Swt, tanpa kita minta atau kita pesankan sebelumnya. Sebagai ungkapan atas peristiwa yang menakjubkan itu, ketiga ayat tersebut di akhiri dengan kalimat yang mengagungkan Allah Ta’ala” Maha Sucilah Allah,sebaik –baik Pencipta  “
            Mengenai terjadinya janin hingga menjadi manusia yang sempurna, Rasulullah Saw. menyatakan proses yang terjadi pada kandungan dalam rahim, juga ditentukan kepastian
(takdir) hidupnya, baik yang berkaikan dengan rizki, masa hidup /mat hingga perilakunya nanti di dunia. Semuanya telah ditetapkan di dalam rahim sebelum manusia dilahirkan. Fase – fase manusia yang paling penting dan genting adalah tiga hari, yaitu saat dilahirkan, saat dicabut nyawanya ( meninggal ) dan saat dibangkitkan kembali dari alam kubur.
 
Pelaksanaan Walimatul Haml  dalam tradisi Jawa dari masing – masing daerah tidak sama. Waktunya pun berbeda – beda tergantung situasi dan kondisi kemampuan penyelenggara. Upacara Walimatul Haml ada yang dilaksanakan dua kali dan ada yang hanya sekali. Bagi yang melaksanakan dua kali biasanya dilaksa pada bulan keempat ( ngapati  ) dan selanjutnya pada bulan ketujuh  ( mitoni  ).
a.Ngapati ( Ngupati )
Saat janin ( embrio )  berusia 120 hari ( atau 4 bulan ) dimulailah kehidupan dengan ruh, dan saat inilah ditentukan bagaimana ia berkehidupan selanjutnya, di dunia sampai akhirat. ” ditentukan rizkinya, ajalnya, langkah – langkah perilakunya, dan sebagai orang yang celaka atau orang yang beruntung
Maka menyongsong penentuan ini, hendaklah diadakan upacara ngapati ( ngupati ), yaitu berdo’a sebagai sikap bersyukur, ketundukan dan kepasrahan ), mengajukan pernohonan kepada Allah agar nanti anak yang lahir sebagai manusia yang utuh sempurna, yang sehat, yang dianugerahi rizki yang baik dan lapang, berumur panjang yang penuh dengan nilai – nilai ibadah, beruntung di dunia dan akhirat. Begitu pula hendaklah bersedekah. Kita ketahui bahwa do’a dan sedekah adalah dua kekuatan yang bisa menembus taqdir.
Adalah indah sekali suatu tradisi yang disebut ngupati atau ngapati (pada bulan keempat ) sebagai upacara dengan meminta kepada sejumlah orang untuk berdo’a, juga disana ada bentuk sedekah. Sedekah yang paling baik adalah ketika kita berkondisi sehat, terdorong kebakhilan dan berharap hidup panjang ( yang penuh dengan kebutuhan dan keinginan).
Bagi orang yang tidak berkemampuan biasanya tidak memaksakan diri untuk acara tradisi ini. Jadi biasanya dilaksanakan kalau ada keluangan rizki. Upacara walimahan ini tidak harus diadakan secara mewah dan meriah, biasanya dengan mendatangkan kesenian diba’an atau hadrah dan pengajian. Bisa diadakan secara sederhana dengan mengundang keluarga dekat 5-10 orang atau sampai 50 orang tergantung kemampuan, berkumpul di rumah, berdo’a bersama dan disuguhi makanan ala kadarnya.
 
b. Mitoni ( Tingkepan )
Selamatan  selanjutnya adalah, setelah usia kehamilan sekitar 7 bulan, yaitu ketika kandungan dirasakan sudah berbobot dan berbeban, maka diadakan lagi upacara yang biasa disebut mitoni atau tingkepan. Dalam upacara mitoni atau tingkepan  ini disamping bersedekah juga diisi pembacaan do’a, dengan harapan si bayi dalam kandungan diberi keselamatan serta ditakdirkan selalu dalam kebaikan kelak di dunia.
Pada hakikatnya, kedua bentuk selamatan yang dikhususkan kepada ibu hamil diatas, baik ngapati atau mitoni adalah berupa kegiatan sedekah dan do’a, dengan harapan agar keinginanya terkabul, khususnya agar ibu dan  janin yang dikandung senantiasa diberi keselamatan, kesehatan serta ditakdirkan selalu dalam kebaikan kelak di dunia, menjadi anak shalih / shalihah.
Hal – Hal yang perlu diperhatikan pada waktu Istri Hamil
Pada saat usia kandungan istri memasuki bulan keenam, saat menunggu kelahiran sang bayi – disamping menjaga kesehatanya, sebaiknya memperbanyak do’a  melakukan shalat hajat dan memperbanyak membaca Al Qur’an, surat Yusuf, surat Maryam, surat Luqman dan lain – lainya. Karena pada masa – masa itu,lembaga hidup tercipta.
Do’a pada saat istri sudah mengandung pada usia empat bulan hingga bayi lahir dengan selamat. Berdo’a hendaknya tidak hanya waktu diadakan selamatan saja tetapi harus rutin dan istiqamah, terutama sesudah selesai shalat wajib dan waktu-waktu mustajabah lainnya. Adapun do’a yang sebaiknya dibaca pada saat kandungan istri berusia empat bulan atau Ngapati adalah
” Ya Allah, hendaklah Engkau menjaga janin yang bersemayam dalam perut….. ( disebutkan nama ibu ) , hendaklah Engkau menjadikan janin ini sebagai keturunan yang baik, dan hendaklah Engkau menjadikanya  sebagai anak yang shaleh, yang sehat, yang selamat sentosa, yang berakal sehat, yang cerdas, yang pandai, yang mengamalkan ( ilmunya ), yang beruntung,  yang dianugrahi rizki lapang, yang terbimbing pada prilaku – prilaku baik, yang kaya, yang dermawan, yang berkunjung ke dua negeri Haram ( Makkah dan Madinah ) untuk menunaikan bentuk ibadah ( haji dan umrah )  dan yang berbakti kepada kedua orang tua. Ya Allah, baguskanlah ia dalam bentuk rupa dan akhlaq, dan baguskanlah suaranya untuk membaca al- Qur’an al – karim dan hadits – hadits Nbi-Mu Muhammad saw. Ya Allah, hendaklah Engkau membimbing anak ini untuk mematuhi- Mu dan mengabdi kepada-Mu dengan baik. Ya Allah, hendaklah Engkau mempermudah kelahiran janin ini dan hendaklah Engkau  berikan rizki padanya, dan kepada ibu-bapaknya- keselamatan, keberuntungan, kesejahteraan, kesyahidan dan berakhir dengan baik ( husnul khatimah ). Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri – istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam kaum bertakwa”
          Adapun do’a yang dibaca pada saat mitoni atau tingkepan adalah:
” Ya Allah, selamatkanlah kami dari bencana dunia dan azab akhirat, petaka dan keburukan keduanya ( dunia dan akhirat ), sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, sejahterahkanlah janinnya, selamatkanlah kandungan di dalam perutnya dari sesuatu yang tidak kami harapkan dan yang kami khawatirkan.  Kesejahteraan terlimpah pada Nuh di seluruh alam. Sungguh demikianlah kami memberi balasan kepada orang –orang yang berbuat  baik. Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu dengan kepangkatan pemimpin kami Muhammad saw, hendaklah Engkau menganugerahkan shalawat kepada beliau, dan selamatkanlah janin ini dari bahaya, sakit, penyakit, dan juga dari jin Ummi Muldin, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang paling pengasih diantara para pengasih. Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri – istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam kaum bertakwa”
            Selain do’a diatas, hendaklah memperbanyak pula do’a ” Aku memohon perlindungan – untuk kandungan / anak ini – kepada Allah Yang Maha Esa lagi sebagai tempat meminta, dari kejahatan setiap orang yang dengki”
Dan do’a yang dibaca khusus janin dan juga untuk anak adalah  :” Ya Allah, wahai Tuhan Yang memberkahi, berkahilah kami dalam umur, rizki, agama, duniawi dan anak – anak kami. Ya Allah, wahai Tuhan yang menjaga, jagalah anak………….. ( sebutkan nama ibunya )  selama ia di dalam perutibunya dan sehatkan ia bersama ibunya. Engkau adalah Penyembuh, tiada penyembuhan selain penyembuhan-Mu, dan janganlah Engkau takdirkan ia sakit dan terhalang ( dari rahmat-Mu ). Ya Allah, bentuklah janin di dalam perut ibunya sebagai bentuk yang bagus, yang indah lagi sempurnah, dan teguhkanlah hatinya dalam beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, di dunia dan di akhirat. Wahai Tuhan yang membolak – balikan hati, teguhkanlah hati kami dalam agama-Mu. Ya Allah, terimalah do’a kami, sebagaimana ( Engkau menerima ) do’a Nabi-Mu Muhammad saw. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang paling penyayang diantara para penyayang”
” Ya Allah, jagalah anak ……….( sebutkan nama ayah …. di dalam perut istrinya dan sembuhkanlah ia, Engkau adalah Penyembuh, dimana tiada penyembuhan selain penyembuhan-Mu, dengan penyembuhan segera yang tidak meninggalkan kesakitan dan penyakit. Engkau adalah sebaik – baik tempat meminta. Ya Allah, bentuklah janin itu dengan bentuk yang baik lagi indah, teuhkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkanlah ia di waktu kelahiranya dengan mudah dan selamat serta tidak mengalami kesulitan, dan dengan anak ini jadikanlah aku sebagai orang yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Amin. Kabulkanlah do’aku sebagaimana Engkau mengabulkan do’a Nabi kita Muhammad saw. Ya Allah, jagalah anak yang Engkau keluarkan dari alam kegelapan kepada alam nyata ini, jadikan ia sebagai anak yang shaleh, yang sehat, yang sempurna, yang lemah lembut, yang cerdas, yang pandai, yang mengamalkan ( ilmunya), yang diberkahi, dan yang menjaga perkataan-Mu yang mulia. Ya Allah, panjangkanlah umurnya, sehatkanlah tubuhnya, baguskanlah perangainya, fasihkanlah lisanya, dan baguskanlah suaranya untuk membaca al- Qur’an al – karim dan hadits – hadits Nabidenan keberkhan Nabi-Mu, pemimpin kami Muhammad saw. Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam.
Selain berdo’a perlu menjaga masalah kesehatan, seorang perempuan yang sedang hamil sebaiknya menjauhi makanan kacang – kacangan, makanan yang panas, makanan yang  rasanya pahit, makanan kelas rendah dan makanan campur – campur. Makanan yang sangat baik untuk dikonsumsi adalah jambu biji ( terutama di bulan ketriga dan keempat ), dan sebagai konsumsi harian adalah daging ayam, buah delima, buah apel manis dan lain – lain. Baik juga  mengunyah kemenyan Arab  ( musthaka atau luban ), yang mana dengan mengkonsumsi kemenyan Arab ini akan dapat menambah kecerdasan anak, mempertajam daya ingat, menghilangkan sifat pelupa dan menghentikan lendir. Sedangkan jambu biji menyebabkan bayi / anak rupawan.
Allah menghendaki  laki – laki Muslim dan perempuan Muslimah agar membentuk keluarga Muslim yang akan menghasilkan keturunan – keturunan Muslim, dan keturunan – keturunan Muslim inilah yang diharapkan akan dapat menghasilkan keluarga – keluarga dan masyarakat Islam, yang berusaha menjamin perdamaian di dunia ini.
Untuk mencapai tujuan diatas ini, Islam menganjurkan kawin dengan perempuan yang peranak, bukan perempuan yang mandul, dan menganjurkan berkeluarga besar, bukan keluarga kecil….Yang dimaksud dengan keluarga besar disini ialah keluarga yang banyak anak, dengan bapak – ibu yang sehat, yang mampu pula mendidik mereka menjadi orang – orang Islam yang taat.
Mengenai hukum Ritual yang disebut tujuh bulanan atau Tingkeban, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada  yang memperbolehkan dan ada yang tidak, bahkan ada yang menyatakan sebagai bid’ah qabihah ( bid’ah yang jelek ). Ifrosin dalam bukunya ”  Fiqh Adat Tradisi Masyarakat Dalam Pandangan Fiqh” dengan mengutip  kitab Qurrat al A’in bi Fatawa Ismail, menjelaskan dalam bentuk tanya jawab, ” Apakah pendapat kalian tentang hukum walimah kehamilan ( memitu / tingkepan ; Jawa) ?  kebiasaan  masyarakat di daerah kita dalam walimah tersebut, wanita yang hamil dimandikan oleh para wanita yang menjadi tamu undangan, wanita yang hamil tersebut duduk dan di sekelilingnya terdapat kelapa kuning, telor dan lain – lainya dari hal – hal mereka yakini dan harus dilakukan, kemudian para tamu wanita hendak pulang mengguyurkan air terlebih dahulu yang bercampur dengan minyak hanut dan semacamnya diatas kepalanya ( wanita yang hamil ). Sebagian masyarakat dalam walimah tersebut   cukup dengan memberi makanan dan membaca Al Qur’an ala kadarnya dan membaca shalawat. Kami menanyakan tentang hukum walimah tersebut dan hal – hal yang terkait denganya ? Jawab : ”
” Allah Dzat yang memberi pertolongan terhadap yang benar, sesungguhnya walimah kehamilan yang disebutkan dalam pertanyaan bukanlah walimah – walimah yang disyari’atkan, hal itu bid’ah, dan bisa jadi bid’ah qabihah ( yang jelek ) jika disertai dengan adat –adat yang tercela, sebagaimana adat yang disebutkan dalam pertanyaan. Kesemua adat itu tercela, kecuali yang terakhir, yakni sebagian masyarakat menganggap cukup dengan membaca Al Qur’an dengan ala kadarnya kemudian para wanita pulang. Sedangkan adat yang selain itu termasuk munkarot dan adat yang buruk, yang mana hendaknya di ingatkan atas buruknya dan menasehati orang – orang yang melakukanya, sebab orang awam ketika menemukan tokoh masyarakat yang berilmu, dipercaya, menasehati, dan bertujuan mencari ridho Allah, maka mereka akan menerima nasehatnya dan akan berdampak baik, maka dari itu wajib bagi tokoh masyarakat yang berilmu untuk melakukan semacam itu dengan mau’idhoh, nasehat yang baik dan niat yang baik pula, dan dengan cara – cara yang akan bermanfaat bagi orang – orang Islam. Allah berfirman,” Ingatkanlah, sebab peringatan itu bermanfaat bagi orang – orang mukmin”, firman Allah,” Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik”
Dari fatwa ini terlihat dengan jelas, bahwa tidak semua adat dilarang, terutama adat yang sudah dijiwai agama, yaitu membaca Al Qur’an dan shalawat. Bila dalam acara tingkepan hanya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an dan shalawat, ditambah dengan shadaqah dari shahibul bait untuk para tamu, maka hal itu adalah adat yang baik dan tidak melanggar syari’at Islam. Maka kegiatan semacam itu jelas tidak dilarang. Kalaupun ada yang mengatakan bid’ah, maka hal itu termasuk bid’ah hasanah, dan tidak menjadi alasan terlarangnya kegiatan itu. Dan bila masih terdapat adat yang menyimpang dari syariat agama, maka para ulama wajib mengingatkan dan meluruskanya.
Dan sepanjang pengamatan kami, khususnya di daerah kami sendiri, kegiatan tingkepan pada umumnya hanya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an , shalawat dan do’a bersama serta diakhiri dengan makan bersama. Dengan demikian  ,maka hukum kegiatan tingkepan yang diisi dengan membaca Al Qur’an dan shalawat adalah boleh ( Jawaz ). Disini kami kutipkan pula fatwa dari Prof. K.H.Ali Mustafa Yaqub,MA, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dan Wakil Ketua Komis Fatwa MUI Pusat, yang juga memperbolehkanya. Kata beliau,” Menurut pengamatan kami  selama ini, ritual semacam ini berisikan do’a bersama agar anak yang ada di kandungan nanti lahir dengan selamat, kelak menjadi anak yang shaleh dan bernasib baik. Ritual itu biasanya diakhiri dengan makan bersama, menyedekahkan makanan pada tetangga dan handai tolan di sekitar rumah.
Ini tentu dianjurkan agama jika dilihat dari isi, prosesi dan tujuan ritualnya yang tidak bertentangan dengan norma dan ajaran Islam, seperti yang telah tertuang dalam hadits riwayat al- Bukhari dalam kitabnya Shahih al – Bukhari, Nabi Saw bersabda,
Sungguh seorang dari kalian dihimpun air mani  ( penciptaan ) nya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai sperma, lalu empat puluh hari kemudian berujud seumpal darah, lalu berujud sekerat daging selama empat puluh hari, kemudian malaikat ( petuas ruh ) diutus, maka ditiupkan ruh padanya ( setelah usia kandungan 120 hari ) , dan malaikat itu diperintah untuk mencatat 4 ketentuan, ditentukan rizkinya, ajal ( masa hidup) nya, prilaku – prilakunya, dan sebagai orang yang celaka atau orang yang beruntung” ( H.R.al-Bukhari )
Menurut kami, berdasarkan Hadits ini, sebaiknya calon jabang bayi dido’akan pada setiap kali perubahan penciptaan itu. Tapi mendo’akannya tentu tidak ada batasan waktu, boleh kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan bagaimanapun juga.
Sedangkan do’a bersama, itu juga dianjurkan dalam Islam, sebagaimana sabda Nabi saw : Allah akan mengabulkan do’a sekelompok orang dari yang sebagian berdo’a dan sebagian yang lain mengamininya ” ( H.R. Imam al – Hakim).
Demikian pula tradisi bersedekah. Ia sangat berguna untuk mempererat tali persaudaraan dan kesetiakawanan sosial, disamping sebagai pencegah bala’ ( bahaya ).
Dalam menyikapi tradisi masyarakat seperti ini, seyogyanya kita tidak terlalu gegabah dengan memfonis bid’ah, tersesat atau lainnya sebelum mengetahui benar subtansi perbuatanya. Kita telusuri terlebih dahulu bagaimana prosesi kegiatan itu. Apa latar belakang, niat, tujuan dan prosesinya. Dan ternyata kegiatan tingkepan ini dilakukan dengan niat untuk mengajak berdo’a bersama atau meminta do’a para hadirin yang diundang. Caranya adalah dengan mengundang para angota keluarga, tetangga dan handai tolan.Setelah berkumpul dimulai acara dengan pengantar dari shahibul hajat atau yang mewakili untuk menyampaikan hajatnya. Sesudah itu dilangsungkan kegiatan membaca sebagaian surat dari Al Qur’an ( biasanya membaca surat Yusuf atau Maryam) , membaca shalawat, dan berdo’a bersama. Dan selanjutnya shahibul hajat mengeluarkan sedekah berupa makanan siap saji untuk dimakan bersama. Adapun menu makanan yang disajikan  biasanya nasi soto, rawon atau lainnya dan pada saat pulang biasanya masih dikasih bingkisan ( berkat,Jawa) untuk keluarga di rumah sedangkan minuman yang dihidangkan biasanya rujak uyub / gobet yaitu minuman dari campuran mangga muda atau kuweni , timun, jeruk, gula merah/ jawa, kalau rasanya manis kemungkinan anaknya besok berjenis kelamin perempuan dan kalau manis  ada sengaknya kemungkinan besar jenis kelaminnya nanti laki-laki .
Setelah ditelusuri dan dimati secara cermat dan mendalam mulai dari niat, tujuanya, tatacara dan prosesinya, ternyata sama sekali tidak terdapat hal – hal yang menyimpang dari ajaran Islam. Meskipun kegiatan semacam ini belum ada di masa Nabi dan shahabat,termasuk nama kegiatannya.
Banyak perbuatan yang belum pernah ada pada zaman Nabi saw, baik nama atau prosesinya, kemudian pada perkembanganya diadakan oleh para shahabat dan ulama pada generasi berikutnya, seperti shalat tarawih, menjilid Al Qur’an menjadi satu buku, adzan memakai pengeras suara dan lain- lain. Termasuk juga kegiatan tingkeban ini. Walaupun belum pernah dilakukan Nabi dan para sahabat, sepanjang prosesinya tidak ada  yang menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah, maka tidak ada larangan untuk melakukannya, apalagi  mencegahnya.
Semoga bermanfaat.
———————————————————————————————————–

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.