WALIMATUL HAML

 
 
 
PENGARUH AGAMA ISLAM TERHADAP TRADISI  UPACARA  TINGKEBAN
(WALIMATUL HAML)
 

   
 
Tulungagung merupakan kota indah berbatasan dengan Kediri, Blitar dan Trenggalek, dimana sebagian besar penduduknya beragama Islam ,  dan perkembangan agama dan budaya didaerah ini  telah berkembang pesat, banyaknya pendatang dari suku Madura, Bawean , juga keturunan Arab dan Cina, terutama di kota  atau kecamatan kota. Disamping  itu di daerah kota, sebagian besar suku jawa, masih mengadakan acara atau upacara adat jawa, tetapi adat  asli jawa kuna  tersebut telah banyak berubah,   dan hampir semuanya pengaruh agama Islam, pengaruh agama islam yang sangat pesat itu banyak dipengaruhi  adanya pondok-pondok pesantren di daerah perkotaan, antara lain Pondok Pesulukan Thoriqoh Agung (PETA) di desa Kauman, Pondok Panggung di desa Karangwaru, Pondok Menoro di desa Mangunsari  Tulungagung., yang mana pondok tersebut telah ada sejak abad 18.
Budaya asli jawa telah banyak ditinggalkan, karena menganggap banyak sekali acara adat jawa asli/ kuna yang dianggap terlalu ribet dan ritualnya banyak bertentangan dengan islam. Sehingga sampai saat ini acara atau upacara selamatanpun telah berubah dari tradisi aslinya , karena disesuaikan dengan syariat Islam. Meski sebagian dari masyarakat ada yang menentang atau meninggalkan tradisi jawa asli tersebut karena acara itu dianggap bid’ah atau sesat, tetapi sebagian besar masyarakat di kota Tulungagung dari suku jawa, masih mengadakannya. Upacara adat di keluarga yang  masih diadakan yaitu antara lain upacara adat pengantin  yaitu siraman, malam midodareni, akad nikah/ ijab Kabul, panggih / temu dan resepsi dan upacara sesudah resepsi. Dan upacara seputar kehamilan juga masih banyak yang mengadakannya.
Pada saat persiapan pra kehamilan , kehamilan, persalinan dan nifas pun ada beberapa tradisi jawa atau mitos  yang masih dipercaya sebagian masyarakat kota Tulungagung , dan hal ini ada yang mempunyai pengaruh positif atau negative terhadap kondisi kesehatan seorang ibu, yaitu  antara lain :
-          Minta bedak talk sisa pakai yang dioleskan dari bayi, dioleskan di perut ibu yang menginginkan anak, biar bisa cepat hamil, hal ini sebenarnya hanya sugesti untuk ibu yang melakukannya agar tenang mengharapkan hamil.
-          Pancingan yaitu mengambil atau mengadopsi anak seolah-olah  anak sendiri,  biar cepat punya anak, ini justru bisa menghambat keharmonisan tangga, dan menurut medis hamil hanya bisa terjadi bila ada pembuahan antara sperma dan sel telur
-          Dilarang membunuh binatang pada saat hamil , bisa menimbulkan cacat janin. Kepercayaan ini secara akal tidak mendasar karena cacat  disebabkan karena berbagai macam penyebab antara lain obat-obatan, infeksi, radiasi atau kel genetik dll
-          Saat hamil memakai kendit yaitu perut ibu diikat dengan benang,  dan ada kain yang diikatkan di tali yang berisi gunting kecil, jarum, dan diberi kain diikat di talinya, tujuannya agar bayi terhindar dari gangguan roh jahat , tetapi hal ini disamping juga sangat tidak rasional juga kurang leluasa gerak tubuh ibu dengan tali itu juga bisa mengakibatkan cedera ibu karena ada benda tajamnya.
Pantangan- pantangan lain yang berupa larangan perbuatan pada umumnya juga ada yang masih percaya yaitu seperti :
-          Dilarang makan di tempat tidur, karena bila akan me­lahirkan sukar dan nanti anaknya bisulen.
-          Dilarang  duduk di atas alu (antan), sebab kalau melahirkan membuang air besar.
-          Dilarang  duduk di atas lumpang akan menghambat kelahiran.
-          Dilarang  mengambil barang dengan jinjit (berdiri pada ujung kaki) akan mengakibatkan keguguran
-          Dilarang duduk/makan di muka pintu karena nanti anaknya mulutnya besar.
-          Dilarang duduk/makan di muka tungku karena anaknya nanti mulutnya lebar.
-          Dilarang mandi terlalu malam, akan memperpanjang saat kelahiran.
-          Dilarang makan dalam takir karena akan menutup ja­lannya bayi.
-          Dilarang berkalung handuk karena anaknya nanti akan kalungan usus.
-          Dilarang berselimut sarung karena nanti akan lahir bungkus.
-          Dilarang menyumbat lubang karena akan menghambat kelahiran.
-          Dilarang melepas rambut pada waktu malam, karena mempersulit pada waktu melahirkan.
-          Tidak boleh membuang air panas, supaya bayinya ti­dak mudah kena penyakit sulet.
-          Pada waktu matahari terbenam tidak boleh keluar ru­mah supaya terhindar dari roh-roh jahat.
-          Tidak boleh membakar tempurung/ranting bambu su­paya anaknya kelak tidak nakal.
-          Tidak boleh berziarah ke kubur dan makan selamatan orang meninggal supaya tidak terkena sawan mayit.
-          Tidak boleh makan dengan pinggan cekung karena bila dilanggar akan melahirkan sukar/sulit.
-          Tidak boleh memakai subang/cincin karena dapat menghambat kelahiran.
-          Memaki-maki atau membenci orang karena anaknya nanti akan seperti orang yang dibenci itu.
-          Dilarang menjahit dengan tangan, supaya  tidak meng­hambat kelahiran.
-          Dilarang melihat sesuatu yang menakutkan atau me­ngerikan karena akan berakibat buruk terhadap bayi­nya
Kecuali beberapa pantangan tersebut di atas, ada beberapa anjuran yang masih dipercaya  oleh seorang wanita hamil dan suaminya. Karena menurut kepercayaan apabila anjuran- anjuran itu ditaati akan membantu lancarnya kelahiran atau berakibat baik terhadap kelahiran. Anjuran-anjuran yang di­maksud adalah sebagai berikut:
-          Selama isterinya hamil sebaiknya  suami ber­puasa Senin – Kamis. Di samping itu harus banyak ber­amal.
-          Selama isterinya hamil sebaiknya si suami kalau tidur malam sesudah jam 12.00 malam.
-          Orang hamil  bila menyapu sampahnya ha­rus lekas dibuang, supaya kalau melahirkan mudah.
-          Wanita yang sedang hamil  dianjurkan makan daging burung kepodang (burung yang elok parasnya), supaya paras anaknya nanti elok.
-          Wanita hamil  dianjurkan untuk mi­num air kelapa muda (Jawa : banyu degan), agar pada waktu anaknya lahir kulitnya bersih dan halus.
-          Kalau mencuci pakaian air cucian harus lekas dibuang, supaya kelahiran berjalan lancar.
-          Apabila kandungan sudah mencapai umur 6 bulan, ibu yang mengandung dianjurkan minum minyak kelapa murni 1 sendok setiap hari supaya kelahiran berjalan lancar.
-          Ibu hamil  dianjurkan untuk minum jamu tradisional.
-          Orang hamil dianjurkan makan buah-buah­an sisa burung atau kelelawar, agar nanti anaknya pan­dai makan sendiri, atau kalau sudah besar pandai men­cari nafkah sendiri.
-          Orang hamil dianjurkan untuk se­lalu menjaga kebersihan, misalnya bila akan menger­jakan sesuatu harus membersihkan kaki, tangan dan mukanya. Bahkan bilamana akan tidur meskipun hanya merupakan syarat kuku kaki maupun tangan supaya dikerik dengan pisau atau silet. Hal ini menurut kepercayaan menyebabkan bayi yang akan dilahirkan nanti berparas cantik.
-          Orang hamil bila akan tidur dian­jurkan mencuci kakinya dengan air yang diberi garam, maksudnya supaya tidak didekati binatang berbisa misalnya : ular.
Pantangan dan anjuran diatas masih dipakai pada sebagian masyarakat di Tulungagung. Meski mereka mengetahui bahwa hal diatas banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mereka anut. Sedangkan selamatan atau tradisi upacara saat hamil juga masih banyak yang menjalankan meski  banyak tradisi yang bertentangan dengan agama.
Saat kehamilan dilakukan berbagai tradisi atau upacara selamatan. Karena mayoritas lingkungan keluarga di Tulungagung kota mempunyai keyakinan/ agama yaitu islam yang taat, maka tradisi yang dilaksanakan tidak murni seperti tradisi masyarakat jawa kuna, tetapi tradisi yang  disesuaikan dengan ajaran agama islam, yang disebut walimatul haml.
Walimatul haml artinya selamatan untuk wanita hamil. Dalam masyarakat Jawa disebut Tingkeban. Tingkeban  menurut bahasa berarti upacara selamatan tujuh bulan untuk wanita yang sedang hamil .Di daerah Tulungagung  seperti daerah Jawa Timur lainnya (bagian pantura), ada yang menyebut acara  walimatul  haml ini dengan ” Mrocoti “. suatu bentuk tafa-ul, dimana calon yang masih dalam kandungan lahir dengan selamat, lancar dan tiada halangan apa-apa. ‘ Langsung procot,  langsung lahir. Procot itu sendiri artinya sudah lahir.
Kehamilan merupakan anugerah Allah swt terbesar bagi pasangan baru  suami istri  dalam perjalanan rumah tangga. Kehamilan seorang istri merupakan pertanda akan lahirnya anak keturunan yang menjadi buah kasih sayang, belahan jantung, penentram jiwa dan pelanjut sejarah. Kehadiran anak membangkitkan semangat orang tua untuk membangun rumah tangga bahagia,penuh cinta kasih dan sayang, mejadi tumpuhan  harapan hidup di masa depan, dan kepadanya segala cita –cita digantungkan.
Seperti pada umumnya, setiap pasangan ingin mengungkapkan rasa syukur sebagai orang tua yang dikarunia anak keturunan, sejak janin masih berada dalam kandungan sudah mempersiapkan segala sesuatu demi untuk menyongsong kelahiran anaknya. Segala perangkat dan perlengkapan disiapkan, setiap waktu do’a dipanjatkan, ungkapan syukur tiada henti meluncur dari hati sanubari setiap insan. Karena itu, berita kehamilan dari pasangan suami istri menempati tempat istimewa ditengah –tengah keluarga dan masyarakat
Sebagai ungkapan rasa syukur dalam menyambut berita gembira kehamilan termasuk daerah Tulungagung yang mayoritasnya merupakan  masyarakat Jawa terdapat suatu tradisi  berupa ritual yang khusus diperuntukkan bagi seorang wanita yang sedang mengandung, yaitu selamatan ngapati ( saat kandungan berusia empat bulan ),dan mitoni (pada saat usia kandungan genap enam atau  tujuh bulan). Selamatan ini disebut dengan Tingkeban. Ada juga yang menyebut dengan ‘ Mrocoti ‘, yang  merupakan bentuk tafaul, seraya  mengharapkan agar janin dalam kandungan dan ibunya sehat, pada saat kelahiranya lancar, langsung keluar ( procot, Jawa ) tanpa ada kesulitan dan halangan apapun.
Tradisi Tingkepan ini ada di Indonesia, khususnya di Jawa.  Tradisinya yang beragam, mulai dari yang bersifat ritual yang berbau mistis sampai yang bersifat seremonial.  Kalau kita cermati, tradisi yang ada sekarang itu tidak terbentuk dengan sendirinya. Tradisi disamping  dipengaruhi oleh pola pikir sekarang, sedikit banyak juga dipengaruhi oleh generasi pendahulu. Dengan demikian ia selalu menghubungkan pada generasi pendahulu yang pada saat itu memiliki faham dan agama atau kepercayaan yang berbeda –beda sehingga tidak semua tradisi sesuai dengan syari’at. Oleh karena itu sebagai pewaris tradisi, saat itu dalam melaksanakan selamatan tidak mengadopsinya secara sporadis, tetapi selalu menimbang atau mengukur terlebih dahulu dengan ukuran syariat. Termasuk juga dengan tradisi Tingkeban ini, baik dalam acara ritual ngapati  atau mitoni ini.
Mengenai asal mula terjadinya ritual ngapati  atau mitoni ini tidak diketahui secara pasti. Namun, pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa kandungan yang sudah berusia tujuh bulan dianggap sudah sempurna. Janin yang sudah memasuki usia tujuh bulan ini kemungkinan kecil bisa keguguran. Karena sudah diyakini sempurna berwujud  manusia, tinggal menunggu tiupan ruh dan masa –masa kelahiranya saja, maka pihak keluarga mengadakan selamatan untuk menandai rasa syukurnya kepada Allah swt atas anugerah besar ini.
Pelaksanaan ritual tujuh bulanan ini dihubungkan dengan proses perkembangan janin yang ada dalam kandungan, dimana manusia diciptakan oleh Allah swt dari saripati tanah, kemudian tanah tersebut dijadikan air mani (sperma) yang ada pada seorang laki – laki , setelah terjadi persemaian antara sperma  (dari seorang laki – laki) dengan indung telur (dari seorang perempuan), maka selanjutnya terjadi pembuahan di dalam rahim seorang perempuan, kemudian menjadi janin yang tumbuh berkembang di dalamnya hingga akhirnya menjadi manusia sempurna.
Sehubungan dengan ritual tujuh bulanan ini,  penjelasannya demikian. Usia minimal kehamilan, itu enam bulan. Artinya, ketika janin sudah berusia enam bulan, maka ia telah sempurna. Sehingga bila lahir, insya Allah, ia bisa bertahan hidup. Sedangkan bila janin lahir sebelum berusia enam bulan, maka biasanya sulit bertahan hidup. Makanya, do’a untuk janin yang akan  lahir dilakukan pada bulan ketujuh.
Pelaksanaan ritual tujuh bulanan ini juga  dihubungkan dengan proses perkembangan janin yang ada dalam kandungan, dimana manusia diciptakan oleh Allah dari saripati tanah, kemudian tanah tersebut dijadikan air manis (sperma) yang ada pada seorang laki – laki , setelah terjadi persemaian antara sperma  (dari seorang laki – laki) dengan indung telur (dari seorang perempuan), maka selanjutnya terjadi pembuahan di dalam rahim seorang perempuan, kemudian menjadi janin yang tumbuh berkembang di dalamnya hingga akhirnya menjadi manusia sempurna
Proses terjadinya manusia merupakan peristiwa yang sangat menakjubkan, sebagai tanda keagungan Sang Pencipta. Bermula dari ujud (benda) yang tak bernilai (sperma) lalu secara bertahap berubah menjadi  janin (embrio) , kemudian tumbuh menjadi segumpal darah hingga menjadi segenggam daging, selanjutnya tumbuh menjadi tulang belulang yang terbungkus oleh daging, hingga akhirnya sempurna dan lengkap dengan angota badan yang tersusun rapi dan rumit, bahkan dilengkapi dengan akal pikiran, akal budi dan perasaan.
Semua proses tersebut terjadi dengan kuasa Allah Swt, tanpa kita minta atau kita pesankan sebelumnya. Sebagai ungkapan atas peristiwa yang menakjubkan itu, ketiga ayat tersebut di akhiri dengan kalimat yang mengagungkan Allah Ta’ala” Maha Sucilah Allah,sebaik –baik Pencipta  “
            Mengenai terjadinya janin hingga menjadi manusia yang sempurna, Rasulullah Saw. menyatakan proses yang terjadi pada kandungan dalam rahim, juga ditentukan kepastian
(takdir) hidupnya, baik yang berkaikan dengan rizki, masa hidup /mat hingga perilakunya nanti di dunia. Semuanya telah ditetapkan di dalam rahim sebelum manusia dilahirkan. Fase – fase manusia yang paling penting dan genting adalah tiga hari, yaitu saat dilahirkan, saat dicabut nyawanya ( meninggal ) dan saat dibangkitkan kembali dari alam kubur.
 
Pelaksanaan Walimatul Haml  dalam tradisi Jawa dari masing – masing daerah tidak sama. Waktunya pun berbeda – beda tergantung situasi dan kondisi kemampuan penyelenggara. Upacara Walimatul Haml ada yang dilaksanakan dua kali dan ada yang hanya sekali. Bagi yang melaksanakan dua kali biasanya dilaksa pada bulan keempat ( ngapati  ) dan selanjutnya pada bulan ketujuh  ( mitoni  ).
a.Ngapati ( Ngupati )
Saat janin ( embrio )  berusia 120 hari ( atau 4 bulan ) dimulailah kehidupan dengan ruh, dan saat inilah ditentukan bagaimana ia berkehidupan selanjutnya, di dunia sampai akhirat. ” ditentukan rizkinya, ajalnya, langkah – langkah perilakunya, dan sebagai orang yang celaka atau orang yang beruntung
Maka menyongsong penentuan ini, hendaklah diadakan upacara ngapati ( ngupati ), yaitu berdo’a sebagai sikap bersyukur, ketundukan dan kepasrahan ), mengajukan pernohonan kepada Allah agar nanti anak yang lahir sebagai manusia yang utuh sempurna, yang sehat, yang dianugerahi rizki yang baik dan lapang, berumur panjang yang penuh dengan nilai – nilai ibadah, beruntung di dunia dan akhirat. Begitu pula hendaklah bersedekah. Kita ketahui bahwa do’a dan sedekah adalah dua kekuatan yang bisa menembus taqdir.
Adalah indah sekali suatu tradisi yang disebut ngupati atau ngapati (pada bulan keempat ) sebagai upacara dengan meminta kepada sejumlah orang untuk berdo’a, juga disana ada bentuk sedekah. Sedekah yang paling baik adalah ketika kita berkondisi sehat, terdorong kebakhilan dan berharap hidup panjang ( yang penuh dengan kebutuhan dan keinginan).
Bagi orang yang tidak berkemampuan biasanya tidak memaksakan diri untuk acara tradisi ini. Jadi biasanya dilaksanakan kalau ada keluangan rizki. Upacara walimahan ini tidak harus diadakan secara mewah dan meriah, biasanya dengan mendatangkan kesenian diba’an atau hadrah dan pengajian. Bisa diadakan secara sederhana dengan mengundang keluarga dekat 5-10 orang atau sampai 50 orang tergantung kemampuan, berkumpul di rumah, berdo’a bersama dan disuguhi makanan ala kadarnya.
 
b. Mitoni ( Tingkepan )
Selamatan  selanjutnya adalah, setelah usia kehamilan sekitar 7 bulan, yaitu ketika kandungan dirasakan sudah berbobot dan berbeban, maka diadakan lagi upacara yang biasa disebut mitoni atau tingkepan. Dalam upacara mitoni atau tingkepan  ini disamping bersedekah juga diisi pembacaan do’a, dengan harapan si bayi dalam kandungan diberi keselamatan serta ditakdirkan selalu dalam kebaikan kelak di dunia.
Pada hakikatnya, kedua bentuk selamatan yang dikhususkan kepada ibu hamil diatas, baik ngapati atau mitoni adalah berupa kegiatan sedekah dan do’a, dengan harapan agar keinginanya terkabul, khususnya agar ibu dan  janin yang dikandung senantiasa diberi keselamatan, kesehatan serta ditakdirkan selalu dalam kebaikan kelak di dunia, menjadi anak shalih / shalihah.
Hal – Hal yang perlu diperhatikan pada waktu Istri Hamil
Pada saat usia kandungan istri memasuki bulan keenam, saat menunggu kelahiran sang bayi – disamping menjaga kesehatanya, sebaiknya memperbanyak do’a  melakukan shalat hajat dan memperbanyak membaca Al Qur’an, surat Yusuf, surat Maryam, surat Luqman dan lain – lainya. Karena pada masa – masa itu,lembaga hidup tercipta.
Do’a pada saat istri sudah mengandung pada usia empat bulan hingga bayi lahir dengan selamat. Berdo’a hendaknya tidak hanya waktu diadakan selamatan saja tetapi harus rutin dan istiqamah, terutama sesudah selesai shalat wajib dan waktu-waktu mustajabah lainnya. Adapun do’a yang sebaiknya dibaca pada saat kandungan istri berusia empat bulan atau Ngapati adalah
” Ya Allah, hendaklah Engkau menjaga janin yang bersemayam dalam perut….. ( disebutkan nama ibu ) , hendaklah Engkau menjadikan janin ini sebagai keturunan yang baik, dan hendaklah Engkau menjadikanya  sebagai anak yang shaleh, yang sehat, yang selamat sentosa, yang berakal sehat, yang cerdas, yang pandai, yang mengamalkan ( ilmunya ), yang beruntung,  yang dianugrahi rizki lapang, yang terbimbing pada prilaku – prilaku baik, yang kaya, yang dermawan, yang berkunjung ke dua negeri Haram ( Makkah dan Madinah ) untuk menunaikan bentuk ibadah ( haji dan umrah )  dan yang berbakti kepada kedua orang tua. Ya Allah, baguskanlah ia dalam bentuk rupa dan akhlaq, dan baguskanlah suaranya untuk membaca al- Qur’an al – karim dan hadits – hadits Nbi-Mu Muhammad saw. Ya Allah, hendaklah Engkau membimbing anak ini untuk mematuhi- Mu dan mengabdi kepada-Mu dengan baik. Ya Allah, hendaklah Engkau mempermudah kelahiran janin ini dan hendaklah Engkau  berikan rizki padanya, dan kepada ibu-bapaknya- keselamatan, keberuntungan, kesejahteraan, kesyahidan dan berakhir dengan baik ( husnul khatimah ). Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri – istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam kaum bertakwa”
          Adapun do’a yang dibaca pada saat mitoni atau tingkepan adalah:
” Ya Allah, selamatkanlah kami dari bencana dunia dan azab akhirat, petaka dan keburukan keduanya ( dunia dan akhirat ), sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, sejahterahkanlah janinnya, selamatkanlah kandungan di dalam perutnya dari sesuatu yang tidak kami harapkan dan yang kami khawatirkan.  Kesejahteraan terlimpah pada Nuh di seluruh alam. Sungguh demikianlah kami memberi balasan kepada orang –orang yang berbuat  baik. Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu dengan kepangkatan pemimpin kami Muhammad saw, hendaklah Engkau menganugerahkan shalawat kepada beliau, dan selamatkanlah janin ini dari bahaya, sakit, penyakit, dan juga dari jin Ummi Muldin, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang paling pengasih diantara para pengasih. Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri – istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami sebagai imam kaum bertakwa”
            Selain do’a diatas, hendaklah memperbanyak pula do’a ” Aku memohon perlindungan – untuk kandungan / anak ini – kepada Allah Yang Maha Esa lagi sebagai tempat meminta, dari kejahatan setiap orang yang dengki”
Dan do’a yang dibaca khusus janin dan juga untuk anak adalah  :” Ya Allah, wahai Tuhan Yang memberkahi, berkahilah kami dalam umur, rizki, agama, duniawi dan anak – anak kami. Ya Allah, wahai Tuhan yang menjaga, jagalah anak………….. ( sebutkan nama ibunya )  selama ia di dalam perutibunya dan sehatkan ia bersama ibunya. Engkau adalah Penyembuh, tiada penyembuhan selain penyembuhan-Mu, dan janganlah Engkau takdirkan ia sakit dan terhalang ( dari rahmat-Mu ). Ya Allah, bentuklah janin di dalam perut ibunya sebagai bentuk yang bagus, yang indah lagi sempurnah, dan teguhkanlah hatinya dalam beriman kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, di dunia dan di akhirat. Wahai Tuhan yang membolak – balikan hati, teguhkanlah hati kami dalam agama-Mu. Ya Allah, terimalah do’a kami, sebagaimana ( Engkau menerima ) do’a Nabi-Mu Muhammad saw. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka, dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang paling penyayang diantara para penyayang”
” Ya Allah, jagalah anak ……….( sebutkan nama ayah …. di dalam perut istrinya dan sembuhkanlah ia, Engkau adalah Penyembuh, dimana tiada penyembuhan selain penyembuhan-Mu, dengan penyembuhan segera yang tidak meninggalkan kesakitan dan penyakit. Engkau adalah sebaik – baik tempat meminta. Ya Allah, bentuklah janin itu dengan bentuk yang baik lagi indah, teuhkanlah hatinya dalam keimanan kepada-Mu dan Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkanlah ia di waktu kelahiranya dengan mudah dan selamat serta tidak mengalami kesulitan, dan dengan anak ini jadikanlah aku sebagai orang yang bermanfaat di dunia dan di akhirat. Amin. Kabulkanlah do’aku sebagaimana Engkau mengabulkan do’a Nabi kita Muhammad saw. Ya Allah, jagalah anak yang Engkau keluarkan dari alam kegelapan kepada alam nyata ini, jadikan ia sebagai anak yang shaleh, yang sehat, yang sempurna, yang lemah lembut, yang cerdas, yang pandai, yang mengamalkan ( ilmunya), yang diberkahi, dan yang menjaga perkataan-Mu yang mulia. Ya Allah, panjangkanlah umurnya, sehatkanlah tubuhnya, baguskanlah perangainya, fasihkanlah lisanya, dan baguskanlah suaranya untuk membaca al- Qur’an al – karim dan hadits – hadits Nabidenan keberkhan Nabi-Mu, pemimpin kami Muhammad saw. Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam.
Selain berdo’a perlu menjaga masalah kesehatan, seorang perempuan yang sedang hamil sebaiknya menjauhi makanan kacang – kacangan, makanan yang panas, makanan yang  rasanya pahit, makanan kelas rendah dan makanan campur – campur. Makanan yang sangat baik untuk dikonsumsi adalah jambu biji ( terutama di bulan ketriga dan keempat ), dan sebagai konsumsi harian adalah daging ayam, buah delima, buah apel manis dan lain – lain. Baik juga  mengunyah kemenyan Arab  ( musthaka atau luban ), yang mana dengan mengkonsumsi kemenyan Arab ini akan dapat menambah kecerdasan anak, mempertajam daya ingat, menghilangkan sifat pelupa dan menghentikan lendir. Sedangkan jambu biji menyebabkan bayi / anak rupawan.
Allah menghendaki  laki – laki Muslim dan perempuan Muslimah agar membentuk keluarga Muslim yang akan menghasilkan keturunan – keturunan Muslim, dan keturunan – keturunan Muslim inilah yang diharapkan akan dapat menghasilkan keluarga – keluarga dan masyarakat Islam, yang berusaha menjamin perdamaian di dunia ini.
Untuk mencapai tujuan diatas ini, Islam menganjurkan kawin dengan perempuan yang peranak, bukan perempuan yang mandul, dan menganjurkan berkeluarga besar, bukan keluarga kecil….Yang dimaksud dengan keluarga besar disini ialah keluarga yang banyak anak, dengan bapak – ibu yang sehat, yang mampu pula mendidik mereka menjadi orang – orang Islam yang taat.
Mengenai hukum Ritual yang disebut tujuh bulanan atau Tingkeban, terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada  yang memperbolehkan dan ada yang tidak, bahkan ada yang menyatakan sebagai bid’ah qabihah ( bid’ah yang jelek ). Ifrosin dalam bukunya ”  Fiqh Adat Tradisi Masyarakat Dalam Pandangan Fiqh” dengan mengutip  kitab Qurrat al A’in bi Fatawa Ismail, menjelaskan dalam bentuk tanya jawab, ” Apakah pendapat kalian tentang hukum walimah kehamilan ( memitu / tingkepan ; Jawa) ?  kebiasaan  masyarakat di daerah kita dalam walimah tersebut, wanita yang hamil dimandikan oleh para wanita yang menjadi tamu undangan, wanita yang hamil tersebut duduk dan di sekelilingnya terdapat kelapa kuning, telor dan lain – lainya dari hal – hal mereka yakini dan harus dilakukan, kemudian para tamu wanita hendak pulang mengguyurkan air terlebih dahulu yang bercampur dengan minyak hanut dan semacamnya diatas kepalanya ( wanita yang hamil ). Sebagian masyarakat dalam walimah tersebut   cukup dengan memberi makanan dan membaca Al Qur’an ala kadarnya dan membaca shalawat. Kami menanyakan tentang hukum walimah tersebut dan hal – hal yang terkait denganya ? Jawab : ”
” Allah Dzat yang memberi pertolongan terhadap yang benar, sesungguhnya walimah kehamilan yang disebutkan dalam pertanyaan bukanlah walimah – walimah yang disyari’atkan, hal itu bid’ah, dan bisa jadi bid’ah qabihah ( yang jelek ) jika disertai dengan adat –adat yang tercela, sebagaimana adat yang disebutkan dalam pertanyaan. Kesemua adat itu tercela, kecuali yang terakhir, yakni sebagian masyarakat menganggap cukup dengan membaca Al Qur’an dengan ala kadarnya kemudian para wanita pulang. Sedangkan adat yang selain itu termasuk munkarot dan adat yang buruk, yang mana hendaknya di ingatkan atas buruknya dan menasehati orang – orang yang melakukanya, sebab orang awam ketika menemukan tokoh masyarakat yang berilmu, dipercaya, menasehati, dan bertujuan mencari ridho Allah, maka mereka akan menerima nasehatnya dan akan berdampak baik, maka dari itu wajib bagi tokoh masyarakat yang berilmu untuk melakukan semacam itu dengan mau’idhoh, nasehat yang baik dan niat yang baik pula, dan dengan cara – cara yang akan bermanfaat bagi orang – orang Islam. Allah berfirman,” Ingatkanlah, sebab peringatan itu bermanfaat bagi orang – orang mukmin”, firman Allah,” Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik”
Dari fatwa ini terlihat dengan jelas, bahwa tidak semua adat dilarang, terutama adat yang sudah dijiwai agama, yaitu membaca Al Qur’an dan shalawat. Bila dalam acara tingkepan hanya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an dan shalawat, ditambah dengan shadaqah dari shahibul bait untuk para tamu, maka hal itu adalah adat yang baik dan tidak melanggar syari’at Islam. Maka kegiatan semacam itu jelas tidak dilarang. Kalaupun ada yang mengatakan bid’ah, maka hal itu termasuk bid’ah hasanah, dan tidak menjadi alasan terlarangnya kegiatan itu. Dan bila masih terdapat adat yang menyimpang dari syariat agama, maka para ulama wajib mengingatkan dan meluruskanya.
Dan sepanjang pengamatan kami, khususnya di daerah kami sendiri, kegiatan tingkepan pada umumnya hanya diisi dengan kegiatan membaca Al Qur’an , shalawat dan do’a bersama serta diakhiri dengan makan bersama. Dengan demikian  ,maka hukum kegiatan tingkepan yang diisi dengan membaca Al Qur’an dan shalawat adalah boleh ( Jawaz ). Disini kami kutipkan pula fatwa dari Prof. K.H.Ali Mustafa Yaqub,MA, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dan Wakil Ketua Komis Fatwa MUI Pusat, yang juga memperbolehkanya. Kata beliau,” Menurut pengamatan kami  selama ini, ritual semacam ini berisikan do’a bersama agar anak yang ada di kandungan nanti lahir dengan selamat, kelak menjadi anak yang shaleh dan bernasib baik. Ritual itu biasanya diakhiri dengan makan bersama, menyedekahkan makanan pada tetangga dan handai tolan di sekitar rumah.
Ini tentu dianjurkan agama jika dilihat dari isi, prosesi dan tujuan ritualnya yang tidak bertentangan dengan norma dan ajaran Islam, seperti yang telah tertuang dalam hadits riwayat al- Bukhari dalam kitabnya Shahih al – Bukhari, Nabi Saw bersabda,
Sungguh seorang dari kalian dihimpun air mani  ( penciptaan ) nya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai sperma, lalu empat puluh hari kemudian berujud seumpal darah, lalu berujud sekerat daging selama empat puluh hari, kemudian malaikat ( petuas ruh ) diutus, maka ditiupkan ruh padanya ( setelah usia kandungan 120 hari ) , dan malaikat itu diperintah untuk mencatat 4 ketentuan, ditentukan rizkinya, ajal ( masa hidup) nya, prilaku – prilakunya, dan sebagai orang yang celaka atau orang yang beruntung” ( H.R.al-Bukhari )
Menurut kami, berdasarkan Hadits ini, sebaiknya calon jabang bayi dido’akan pada setiap kali perubahan penciptaan itu. Tapi mendo’akannya tentu tidak ada batasan waktu, boleh kapan saja, dimana saja, dan dalam keadaan bagaimanapun juga.
Sedangkan do’a bersama, itu juga dianjurkan dalam Islam, sebagaimana sabda Nabi saw : Allah akan mengabulkan do’a sekelompok orang dari yang sebagian berdo’a dan sebagian yang lain mengamininya ” ( H.R. Imam al – Hakim).
Demikian pula tradisi bersedekah. Ia sangat berguna untuk mempererat tali persaudaraan dan kesetiakawanan sosial, disamping sebagai pencegah bala’ ( bahaya ).
Dalam menyikapi tradisi masyarakat seperti ini, seyogyanya kita tidak terlalu gegabah dengan memfonis bid’ah, tersesat atau lainnya sebelum mengetahui benar subtansi perbuatanya. Kita telusuri terlebih dahulu bagaimana prosesi kegiatan itu. Apa latar belakang, niat, tujuan dan prosesinya. Dan ternyata kegiatan tingkepan ini dilakukan dengan niat untuk mengajak berdo’a bersama atau meminta do’a para hadirin yang diundang. Caranya adalah dengan mengundang para angota keluarga, tetangga dan handai tolan.Setelah berkumpul dimulai acara dengan pengantar dari shahibul hajat atau yang mewakili untuk menyampaikan hajatnya. Sesudah itu dilangsungkan kegiatan membaca sebagaian surat dari Al Qur’an ( biasanya membaca surat Yusuf atau Maryam) , membaca shalawat, dan berdo’a bersama. Dan selanjutnya shahibul hajat mengeluarkan sedekah berupa makanan siap saji untuk dimakan bersama. Adapun menu makanan yang disajikan  biasanya nasi soto, rawon atau lainnya dan pada saat pulang biasanya masih dikasih bingkisan ( berkat,Jawa) untuk keluarga di rumah sedangkan minuman yang dihidangkan biasanya rujak uyub / gobet yaitu minuman dari campuran mangga muda atau kuweni , timun, jeruk, gula merah/ jawa, kalau rasanya manis kemungkinan anaknya besok berjenis kelamin perempuan dan kalau manis  ada sengaknya kemungkinan besar jenis kelaminnya nanti laki-laki .
Setelah ditelusuri dan dimati secara cermat dan mendalam mulai dari niat, tujuanya, tatacara dan prosesinya, ternyata sama sekali tidak terdapat hal – hal yang menyimpang dari ajaran Islam. Meskipun kegiatan semacam ini belum ada di masa Nabi dan shahabat,termasuk nama kegiatannya.
Banyak perbuatan yang belum pernah ada pada zaman Nabi saw, baik nama atau prosesinya, kemudian pada perkembanganya diadakan oleh para shahabat dan ulama pada generasi berikutnya, seperti shalat tarawih, menjilid Al Qur’an menjadi satu buku, adzan memakai pengeras suara dan lain- lain. Termasuk juga kegiatan tingkeban ini. Walaupun belum pernah dilakukan Nabi dan para sahabat, sepanjang prosesinya tidak ada  yang menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah, maka tidak ada larangan untuk melakukannya, apalagi  mencegahnya.
Semoga bermanfaat.
———————————————————————————————————–

SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID

Assalaamu’alaikum wr wb.
JANGAN MELEWATI BAGIAN DEPAN ORANG LAIN YANG SEDANG SHOLAT
Ketika berjalan di dlm masjid untuk mencari posisi, jangan sampai melewatkan diri di depan orang yg sedang shalat. Hal ini dikarenakan bahwa dosa lewat di depan orang sholat itu sangat berat sekali.

“Seandainya orang yg lewat di depan orang yg shalat mengetahui (dosa) yg ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 ( tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yg sedang shalat.”( HR. Bukhari  Muslim)

Yang dikatakan terlarang adalah lewat di depan orang yg sedang sholat sendirian atau di depan imam. Misalnya lewat di depan makmum adalah tidak mengapa jika cukup tempat. Hal ini didasari atas perbuatan Ibnu Abbas saat menginjak baligh, dimana beliau pernah menunggangi keledai betina melewati sela shaf jama’ah yg diimami oleh Rasulullah saw, lalu turun dan bergabung dlm shaf. Tidak ada seorangpun yg mengingkari perbuatan ini dlm riwayat Bukhari  dan Muslim . Namun meskipun begitu adalah lebih baik bagi kita untuk tidak melewati orang sholat di depannya dg alasan apapun.

Para ulama menuliskan  bahwa batas jarak itu adalah 3 zira’ (hasta). Sehingga bila jarak antar orang shalat dg pembatas itu lebih dari hasta, maka dianggap boleh dilewati dan tidak ada dosa buat yg lewat di depannya.

Ukuran jarak 3 hasta ini oleh para ulama dianggap berlaku juga bila tidak ada pembatas. Sehingga lewat di depan orang shalat asalkan sudah berjarak 3 hasta dianggap tidak melanggar larangan.

(1 hasta adalah jarak antara siku dan ujung jari, masin masing orang bisa berbeda , rata rata 45,2 cm)

MENGAHADAP SUTRAH KETIKA SHALAT
Sutrah adalah pembatas dlm shalat, bisa berupa tembok, tiang, orang yg sedang duduk/sholat, tongkat, tas, dll. Sutrah disyariatkan bagi imam dan bagi orang yg shalat sendirian.
“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat dg menghadap sutrah dan mendekatlah padanya” (HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih sebagaimana dlm Shahihul Jaami’)Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum memasang sutrah adalah wajib karena adanya perintah Nabi saw.. Dalam shalat berjamaah yg menghadap sutrah adalah imam, dan sutrah bagi imam juga merupakan sutrah bagi makmum yg dibelakangnya.

Hendaklah orang yg shalat menolak/mencegah apa pun yg lewat di depannya, baik orang dewasa maupun anak-anak. Rasulullah saw  bersabda:ya

“Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yg menutupinya dari manusia (menghadap sutrah), lalu ada seseorang ingin melintas di hadapannya, hendaklah ia menghalanginya pada lehernya. Kalau orang itu enggan untuk minggir (tetap memaksa lewat) perangilah (tahanlah dengan kuat) karena ia hanyalah setan.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Wallahu a’lam bisshowaab

Semoga bermanfaat.

Selamat beribadah

MASJID

Assalaamu’alaikum wr wb.
MASJID.
Masjid merupakan sebuah tempat suci yg tidak asing lagi kedudukannya bagi umat Islam. Masjid selain pusat ibadah umat Islam, ia pun sbg lambang kebesaran syiar dakwah Islam.
“Barangsiapa yg membangun masjid karena mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya semisalnya di al jannah.” (HR Al Bukhari).
Akan lebih barakah lagi bila mampu merealisasikan tujuan dibangunnya masjid. Salah satu fungsi dibangunnya masjid adalah menegakkan shalat berjam’ah di dlmnya.
Ternyata, bila kita menengok kondisi masjid-masjid yg ada terlihat shaf (barisan) ma’mum semakin maju alias sepi dari jama’ah. Bahkan ada beberapa masjid yg tidak menegakkan shalat berjama’ah 5 waktu secara penuh.
Kondisi ini seharusnya menjadikan kita tersentuh untuk bisa berupaya dan ikut serta bertanggung jawab dlm memakmurkan masjid.
Keutamaan dan kedudukan shalat berjama’ah 5 waktu di masjid. Semata-mata sebagai nasehat untuk kita bersama dalam mewujudkan kemakmuran masjid-masjid yang merupakan pusat syiar-syiar Islam dan mewujudkan hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala yang benar-benar beriman kepada-Nya.

Memakmurkan Masjid Ciri Khas Orang-Orang Yang Beriman
Ciri khas yang harus dimiliki oleh orang yang beriman adalah tunduk dan patuh memenuhi panggilan-Nya. Ciri khas ini sebagai tanda kebenaran dan kejujuran imannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, bila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang dapat menghidupkan hati kalian…” (TQS Al Anfal: 24)

Allah subhanahu wata’ala telah memanggil kaum mu’minin untuk memakmurkan masjid. Siapa yang memenuhi panggilan Allah subhanahu wata’ala ini, maka Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas kebenaran dan kejujuran iman dia kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (TQS At Taubah: 18)

Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i (bermadzhab Syafi’i) seorang ulama’ besar dan ahli tafsir berkata: “Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.” (Al Mishbahul Munir tafsir At Taubah: 18)

Sesungguhnya termasuk syi’ar Islam terbesar adalah memakmurkan masjid-masjid dengan menegakkan shalat berjama’ah. Bila masjid itu sepi atau kosong dari menegakkan shalat berjama’ah pertanda mulai rapuh dan melemahnya kebesaran dan kemulian dakwah Islam.

SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID.

Mempunyai Keutamaan diantaranya:

1. Mendapat naungan dari Allah swt pada hari kiamat
“Tujuh golongan yg Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yg tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yg adil, pemuda yg dibesarkan dlm ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yg hatinya selalu terpaut dg masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

2. Mendapat balasan seperti haji
“Barangsiapa yg keluar dari rumahnya dlm keadaan berwudhu’ untuk shalat lima waktu (secara berjama’ah di masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji yg memakai kain ihram.” (HR. Abu Dawud dan di hasankan o/ Asy Syaikh Al Albani)

3. Menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat (Lihat HR. Muslim )

4. Disediakan baginya Al Jannah (Lihat H.R. Al Bukhari  dan Muslim )

5. Mendapat dua puluh lima/dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian (Lihat HR. Al Bukhari )

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat.
Selamat beribadah..

A I B

Assalaamu’alaikum wr wb.   

AIB. 

“Sesungguhnya orang-orang yg ingin agar (berita) perbuatan yg amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yg beriman, bagi mereka azab yg pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nuur: 19).
Tidaklah patut bagi seorang muslim membuka aib saudaranya sendiri. Karena dlm Islam menjaga kehormatan sesama saudaramu yg seiman merupakan satu keharusan dan mesti dijaga  sebaik-baiknya.
“Barang siapa yg melepaskan kesusahan seorang muslim diantara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya diantara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang sedang salam kesulitan, niscaya Allah akan memberinya kemudahan dunia dan akhirat. Dan barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan selalu menolong hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

”Seorang hamba yg menutupi aib orang lain di dunia, kelak Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (HR.Muslim).                  -

Janganlah gemar menceritakan  aib sendiri kpd orang lain. Atau bahkan merasa berbangga diri dg membuka aibnya sendiri di depan orang lain.
Perbuatan ini dilarang dan dikecam keras dalam Islam.

“Semua umatku akan diampuni, kecuali orang yg terang-terangan berbuat dosa. Salah satu contohnya ialah seseorang yg melakukan suatu pekerjaan (buruk) dimalam yg ditutupi oleh Allah, tetapi kemudian  pagi harinya ia justru mengatakan, ‘Semalam aku melakukan ini dan ini.’ Ketika tidur malam aibnya sudah ditutupi oleh Tuhannya, tetapi pagi hari ia justru membukanya sendiri.’” (HR. Bukhari dan Muslim).          -

“Hai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari berprasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yg suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Hujurat: 12)
Sungguh celaka orang yg berbuat dosa di malam hari dan Allah SWT tutupi aibnya, tapi ia malah membukanya di siang harinya dg menceritakannya kepada orang lain. Begitu pula sungguh celaka orang yg  berbuat dosa di siang hari dan Allah SWT tutupi aibnya, tapi ia malah membukanya di malam harinya dg menceritakannya kpd orang lain. Lebih celaka lagi orang yg suka membuka aib orang lain dg menceritakan dan menyebarkannya demi kesenangannya semata.
Semoga kita terjaga dari berbuat demikian, karena kehinaanlah yang diterimanya bagi siapapun yang berbuat demikian. Bukan hanya kehinaan di dunia, akan tetapi juga kehinaan di akhirat kelak. Na’uudzubillahi min dzaalik.

Wallahu ‘Alam bisshowab

Semoga bermanfaat.

Selamat beribadah!

MUDAH

Assalaamu’alaikum wr wb.
MUDAH
“Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sbg  seorang pengajar yg memudahkan.
(HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)
“…dan Dia tidak menjadikan kesukaran dlm agama atas diri kalian.”
Imam Ibn Qayyim menyatakan, “Hakikat ajaran Islam semuanya mengandung rahmah dan hikmah. Kalau ada yg keluar dari makna rahmah menjadi kekerasan, atau keluar dari makna hikmah menjadi kesia-siaan, berarti itu bukan termasuk ajaran Islam. Kalaupun dimasukkan oleh sebagian orang, maka itu adalah kesalahkaprahan.”
Menjalankan syari’at Islam boleh secara gradual (bertahap). Dlm  hal ini, seorang muslim tidak serta-merta diharuskan menjalankan kewajiban agama dan amalan-amalan sunnah secara serentak. Ada tahapan yg mesti dilalui: mulanya kita hanya diperintahkan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok agama. Setelah yg pokok-pokok berhasil dilakukan dg baik dan rapi, kalau punya kekuatan dan kesempatan, maka dianjurkan untuk menambah dg  amalan-amalan sunnah.Izin untuk mengamalkan syari’at Islam secara bertahap ini telah dicontohkan oleh RasululLah Saw.  Suatu hari, seorang Arab Badui yg belum lama masuk Islam datang kpd RasululLah Saw. Ia dg terus-terang meminta izin untuk sementara menjalankan kewajiban-kewajiban Islam yg pokok saja, tidak lebih dan tidak kurang. Beberapa Sahabat Nabi menunjukkan kekurang-senangannya karena menilai si Badui enggan mengamalkan yg sunnah. Tapi dengan tersenyum, Nabi Saw. mengiyakan permintaan orang Badui tsb. Bahkan beliau bersabda: “Dia akan masuk surga kalau memang benar apa yg dikatakannya.”
“Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sbg  seorang pengajar yg memudahkan. (HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)
Adanya anjuran untuk memanfaatkan aspek rukhshah (keringanan dlm  praktek beragama). Aspek Rukhshah ini terdapat dlm semua praktek ibadah, khususnya bagi mereka yg lemah kondisi tubuhnya atau berada dlm situasi yg tidak leluasa. Bagi yg tidak kuat shalat berdiri, dianjurkan untuk shalat sambil duduk. Dan bagi yg tidak kuat sambil duduk, dianjurkan untuk shalat rebahan. Begitu pula, bagi yg tidak kuat berpuasa karena berada dlm perjalanan, maka diajurkan untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari-hari yg lain.

“Sesungguhnya Allah suka kalau keringanan-keringananNya dimanfaatkan, sebagaimana Dia benci kalau kemaksiatan terhadap perintah-perintahNya dilakukan.” (HR. Ahmad, dari Ibn ‘Umar ra.)

Dlm sebuah perjalanan jauh, Rasulullah Saw. pernah melihat seorang Sahabatnya tampak lesu, lemah, dan terlihat berat. Beliau langsung bertanya apa sebabnya. Para Sahabat yg lain menjawab bahwa orang itu sedang berpuasa. Maka RasululLah Saw. langsung menegaskan:    –         “Bukanlah termasuk kebajikan untuk berpuasa di dalam perjalanan (yang jauh). (HR Ibn Hibbân dari  Jâbir bin ‘AbdilLâh ra.)

Islam tidak mendukung praktek beragama yg menyulitkan. Disebutkan dlm  sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji, Rasulullah saw. memperhatikan ada Sahabat beliau yg terlihat sangat capek, lemah dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya. Ternyata, menurut cerita para sahabat yg lain, orang tersebut bernadzar akan naik haji dg berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Maka Rasulullah saw. langsung memberitahukan, “Sesunguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu.” (HR. Bukhâri dan Muslim, dari Anas ra.)

Islam a/  agama yg rahmatan lil’ ‘alamin secara kuat mencerminkan aspek hikmah dan kemudahan dlm  ajaran-ajarannya. Dan kita sbg kaum muslimin, telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menikmati kemudahan-kemudahan tsb.        -

Dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah saw. sendiri dalam kesehariaannya, ketika harus menentukan antara dua hal, beliau selalu memilih salah satunya yg lebih mudah, selama tidak termasuk dlm  dosa. (HR. Bukhâri dan Muslim)

Akan tetapi, kemudahan dlm Islam bukan berarti media untuk meremehkan dan melalaikan kewajiban-kewajiban yg telah ditetapkan. Rukhshah tidak untuk dijadikan apologi, keringanan-keringanan dari Allah bagi kita jangan sampai membuat kita justru menjadi jauh dariNya. Karakter Islam sbg  agama yg mudah merupakan manifestasi nyata bahwa ajaran Islam bukanlah sekumpulan larangan yang intimidatif, melainkan ajaran yg mencerminkan kasih-sayang. Sehingga dg demikian, ketika kita menjalankan ajaran-ajaran Islam, motivasinya bukan karena kita takut kepada Allah Swt., tapi lebih karena kita rindu dan ingin lebih dekat denganNya.  .

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat.
Selamat beribadah.

Hukum Menunda Haid dalam Pelaksanaan Ibadah Puasa Ramadhan

 

               Seiring kemajuan dunia kesehatan, masalah siklus haid atau menstruasi bagi wanita sudah bisa ditunda dengan mengkonsumsi obat atau pil penunda haid. Yang menjadi permasalahan adalah bolehkah menunda siklus haid untuk tujuan menunaikan ibadah puasa ramadhan?
               Menurut Drs KH. Ahmad faisal Haq, M.Ag, para ulama mempunyai beberapa pendapat menyangkut menunda datangnya haid atau menstruasi dengan mengkonsumsi pil haid selama bulan ramadhan. Terdapat sejumlah ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah tidak diperbolehkan.
               Dalam durus wa fatwa Al haram Al makki  Ibnu Utsmain mengatakan kepada para wanita yang mendapatkan haid pada bulan ramadhan “Syeikh Utsmain ditanya oleh seseorang: “ Apakah boleh seseorang wanita menggunakan pil penunda haid pada bulan ramadhan dan lainya? Beliau menjawab: “menurut hemat saya dalam masalah ini agar para wanita tidak menggunakanya biak dibulan ramadhan atau dibulan lainya, karena menurut para dokter hal ini menimbulkan bahaya yang sangat besar bagi rahim, urat syaraf dan darah. Dan segala sesuatu yang menimbulkan bahaya adalah dilarang. Padahal Nabi SAW telah bersabda:”janganlah kamu melakukan tindakan yang mmbahayakan dirimu dan orang lain’’.dan kami telah mengetahui dari mayoritas wanita yang menggunakanya bahwa kebiasaan haid mereka berubah, dan menyibukkan para ulama membicarakan masalah tersebut.maka yang paling benar adalah tidak menggunakan obat tersebut selamanya baik dibulan ramadhan maupun lainya.
               Menurut KH. Habib Syarif Muhammad, hukum awal pemakaian obat obat penunda haid dalam islam tidak terbolehkan. “ pemakaian obat berarti ingin menunda, sehingga melawan ketentuan yang telah digariskan. Perempuan memiliki siklus haid secara alamiah, sebagai rahmad dari Allah. Hanya ibadah haji merupakan amalan yang tidak bisa dilakukan setiap tahun dengan pengorbanan harta, tenaga, yang tidak sedikit.
               Namun demikian, ada banyak ulama yang berpendapat berbeda dengan pendapat diatas, diantaranya adalah;
Menyatakan boleh, dasar yang diambil menjadi pegangan berasal dari alqur’an dan dan Hadits  misalnya surah Al-baqarah ayat 185;
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan atas kamu dan tidak menginginkan kesulitan menimpamu”.
               Selain itu Ibnu Qudamah Al Hanbaly dalam kitabnya Al Mughni (madzhab Hambali) dan Hutbah Al Maliki dalam kitabnya Mawahib Al jalil (Madzhab Maliki) serta Imam Ramli Asy Syafi’i dalam An-Nihyahnya (madzhab Syafi’i) Mereka menyatakan bahwa menggunakan pil pencegah haid dalam tujuan agar dapat melaksanakan puasa ramadhan dan ibadah lainya hukumnya mubah dalam artian boleh boleh saja, selagi tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan wanita.

Hukum Menunda Haid dalam Pelaksanaan Ibadah Haji

 
                  Menunaikan ibadah haji bagi para calon jemaah haji  wanita usia subur,  terdapat halangan haid yang dapat menyebabkan tertundanya rukun haji yaitu thawaf (mengelilingi ka’bah) tidak bisa bersama muhrim, keluarga, atau bahkan kelompok terbangnya (kloter) nya, yang dapat mengganggu psikologis calon jemaah haji sehingga dapat mengalami gangguan psikologis dan menggangu kesempurnaan hajinya. Disamping itu karena mengalami haid dapat menyebabkan calon jemaah haji tidak dapat melaksanakan sholat arba’in (40 waktu sholat) di mesjid nabawi yang merupakan idaman setiaporang yang menunaikan ibadah haji.
                        Perkembangan ilmu kedokteran menawarkan obat menunda haid dalam berhaji. Sehingga dapat melakukan thawaf dan rukun haji lainya bersama dimekkah, serta dapat sholat arba’in  dimadinah sebagaimna yang diinginkan. Tanpa terhalang haid, sehingga calon jemaah haji dapat menunaikan ibadah haji dengan sempurna.
                        Adapun aspek hukumnya terdapat berbagai pendapat para ulama. Syekh Mar’i Al Maqdisy Al-Hanbali, Syaikh Ibrahim bin Muhammad (keduanya ahli fiqih madzhab Hanbali) dan yusuf Al- Qardawy (Ahli fiqih Kontemporer) berpendapat bahwa wanita yang mengkhawatirkan hajinya (dan umrah) tidak sempurna,maka dia boleh menggunakan obat menunda hainya. Alasan mereka adalah karena wanita itu sulit menyempurnakan hajinya, sedangkan teks atau dalil yang melarang menunda haid itu tidak ada. Selain itu Majlis Ulama Indonesia (MUI) dalam sidang komosi fatwanya pada tahun 1984  menetapkan, bahwa untuk kesempurnaan dan kekhusukan seorang wanita dalam melaksanakan ibadah haji hukunya adalah mubah (boleh) para fuqaha’ ( ulama ahli fiqih) mayoritas sependapat menunda haid untuk berhaji dengan obat-obatan. Hal ini sebagaimana dasar kaidah fiqiyyah yang menyatakan, pada dasarnya segala sesuatu hukumnya mubah sampai ada dalil yang melarangnya.